Pelayanan SPM online ini praktis memberikan dampak efisiensi waktu dan tenaga. SPM yang biasa dikerjakan secara manual bisa diselesaikan dalam 6 hari, kini bisa beres dengan waktu hanya 30 menit.
SPM ini sekaligus sebagai bank data yang real time online bisa menggambarkan situasi. Dan sistem ini menjadi percontohan pendataan mandiri yang jadi pilot project pendataan mekanisme pemutakhiran fakir miskin.
"Inilah inovasi yang kita kerjakan konsisten untuk mendekatkan warga dengan capaian keberhasilan pelayanan di Banyuwangi. Setelah e-village budgetting, sekarang kita laksanakan SPM online. Tidak perlu lagi datang ke kantor kabupaten atau kecamatan, cukup dilakukan di desa," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat melihat proses pelatihan sistem tersebut, Kamis (24/11/2016).
Untuk mempermudah pelaksanaannya, sejak kemarin dilatih 217 operator dari seluruh desa/kelurahan. Mereka yang dilatih ini bagian Kesejahteraan Rakyat di masing-masing desa/kelurahan.
Anas berharap para operator seluruh desa tidak patah semangat menjalankan sistem anyar ini.
"Salah satu kendala daerah yang bukan kota besar seperti Banyuwangi adalah kesiapan SDM. Kami harus lakukan transformasi, menumbuhkan kesadaran melek TIK bagi operator desa. Ini tantangannya. Beda dengan di kota. Tapi kita semua senang karena aparat desa mulai terbiasa berpacu dalam inovasi. Bayangkan, yang pegang laptop ini para petugas desa lho, bukan petugas kecamatan. Saya terharu melihat semangat teman-teman di desa," ujarnya.
Salah satu perangkat desa, Karimatul Hayati dari Desa Segobang, Kecamatan Licin, antusias menerapkan sistem baru ini.
"Pelayanan ke warga bisa lebih cepat, sehingga mereka bisa puas. Kami juga tidak repot mengurusnya karena semua sudah online," kata dia. (bdh/bdh)










































