"Kami akan bersinergi dengan pemerintah desa maupun kabupaten untuk menyiapkan material untuk jembatan darurat, nantinya untuk jangka pendek, kemungkinan akan dipasang batang pohon kelapa, sehingga sepeda motor bisa lewat," kata Camat Gandusari, Joko Susanto, Selasa (15/11/2016).
Pemasangan jembatan darurat tersebut sangat diperlukan untuk mempermudah akses warga dari dua wilayah. Menurutnya penggunaan batang pohon kelapa merupakan alternatif terakhir, apabila pemerintah daerah tidak memiliki stok besi baja.
"Kami masih komunikasikan dengan dinas pekerjaan umum, kalau memang ada besi ya kami gunakan itu, namun kalau tidak ada, maka terpaksa menggunakan pohon kelapa," ujarnya.
Joko mengaku perbaikan jembatan Ngrayung sangat diharapkan warga, karena jembatan tersebut memiliki fungsi yang sangat penting bagi akses masyarakat di Desa Ngrayung, Wonorejo serta sebagian Kecamatan Kampak dan Kecamatan Watulimo.
"Karena jalur ini adalah akses yang paling dekat, kalau melewati jalur lain juga bisa tapi agak jauh. Minimal untuk sepeda maupun sepeda motor bisa lewat," imbuhnya saat meninjau langsung lokasi jembatan yang putus.
Lanjut dia, untuk pembangunan secara permanen jembatan Ngrayung telah menjadi atensi khusus dari pemerintah kabupaten, rencananya proses perbaikan akan dilaksankaan pada tahun anggaran 2017 mendatang.
"Yang putus ini sebetulnya adalah sayap jembatan, sehingga anggarannya tidak terlalu besar, kalau untuk konstruksi utama tidak masalah. Sebelumnya Pak Bupati Emil juga sempat meninjau lokasi ini sebelum putus," kata Joko.
Dijelaskan, sayap jembatan yang putus tersebut merupakan konstruksi baru, yang dibangun pada pertengahan tahun 2016 ini. Selain bagian sayap, sejumlah plengsengan yang ada di sekitar jembatan juga ikut ambrol akibat tergerus banjir.
Sebelumnya, jembatan Ngrayung di Kecamatan Gandusari pada Minggu (13/11/2016) putus setelah terjadi banjir bandang. Saat ini akses lalu lintas warga dari dua arah terganggu dan harus dialihkan melalui jalur lain.
Di sisi lain, jembatan putus juga terjdi di Desa Gador, Kecamatan Durenan, Trenggalek. Konstruksi jembatan yang menghubungkan antara Desa Gador dengan Desa Sumberejo tersebut ambrol, sehingga akses warga terputus total.
"Jembatan ini memang sudah tua, dibangun sekitar tahun 1961, Sebelumnya tidak ada tanda-tanda, kodisi cuaca juga tidak hujan. Tiba-tiba ambrol begitu saja," kata salah seorang warga, Suroto.
Warga berharap pemerintah daerah segera membangun kembali jembatan tersebut, karena merupakan jalur utama antar desa. Saat ini warga di Desa Sumberejo terpaksa menggunakan jalur alternatif untuk keluar wilayah. (bdh/bdh)











































