Simulasi tersebut diikuti oleh 130 karyawan Unej mulai dari Satpam dan karyawan administrasi; sebanyak 122 relawan kebencanaan yang terdiri dari 80 relawan mahasiswa lama, dan 42 relawan kampus yang baru.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember Heru Widagdo menjelaskan, selain karyawan Unej dan tim relawan, kegiatan tersebut juga didukung oleh BPBD, BNPB, Basarnas, dan Unit Pemadam Kebakaran.
"Skenarionya yakni terjadi kebakaran di lantai III. Kemudian pihak Unej mengumumkan agar karyawan berlari ke jalur evakuasi. Lalu Tim pemadam kebakaran datang, sementara tim relawan menolong para korban," kata Heru.
Di saat tim pemadam kebakaran bekerja memadamkan api, tim relawan terlihat berlari masuk ke dalam gedung dengan membawa tandu. Sesaat kemudian, beberapa korban yang terjebak di dalam gedung dibawa menggunakan tandu ke luar ruangan.
Bagi yang tidak bisa dievakuasi menggunakan tandu, maka dikeluarkan menggunakan tali yang tersambung ke tiang bendera depan gedung rektorat, layaknya permainan Flying Fox.
Sementara itu, Rektor Unej Mohammad Hasan mengatakan, kegiatan ini berawal dari kekhawatiran pihaknya dengan beberapa potensi bencana yang bisa terjadi di Jember.
"Melihat peta Jember termasuk kawasan rawan bencana, kami ingin kampus Unej aman. Ini untuk mengantisipasi agar semua terselamatkan. Prosedur evakuasi harus bisa dipahami semua pihak. Bagaimana tindakan yang harus segera dilakukan jika bencana itu terjadi," kata Hasan.
Dia tidak berharap bencana gempa bumi dan kebakaran ini benar-benar terjadi. Namun dia ingin semua pihak harus siap.
"Kami ingin simulasi ini reguler dilakukan setidaknya satu tahun sekali, agar semua warga kampus saat bencana tidak panik," katanya.
Hasan menambahkan, Unej berencana membangun bangunan setinggi minimal enam lantai. Oleh sebab itu, pihaknya ingin simulasi ini bisa dipahami dan diterapkan oleh seluruh pihak jika bencana benar benar terjadi. (fat/fat)










































