Ironis! Monumen Perjuangan Kalah Populer Dibanding Patung Suro dan Boyo

Ironis! Monumen Perjuangan Kalah Populer Dibanding Patung Suro dan Boyo

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Kamis, 10 Nov 2016 12:10 WIB
Ironis! Monumen Perjuangan Kalah Populer Dibanding Patung Suro dan Boyo
Foto: Imam Wahyudianta
Surabaya - Sebagai Kota Pahlawan, Surabaya bertabur monumen patung sebagai bagian sejarah perjuangan melawan penjajah pada 10 November 1945. Namun, keberadaannya kalah populer dibanding oatung Suro dan Boyo.

Selain patung di Monumen Pertempuran 1o November di Alun-alun Contong yang 'tenggelam' dengan rimbunnya tanaman dan pertumbuhan pertokoan, ada dua patung lain yang keberadaannya juga terlupakan.
Foto: Imam Wahyudianta

Monumen perjuangan di Jalan Kombes M Duriyat. Pada patung itu memperlihatkan seorang pejuang berikat kepala dan berselempang sarung dalam posisi berdiri. Pejuang itu membawa sebuah keris yang ia angkat ke atas sambil berteriak.

Plakat dalam monumen tersebut tersebut masih utuh, beda dengan yang di Monumen Pertempuran 10 November yang berada di Gemblongan.

Baca Juga: Simbol Pertempuran 10 November, Apa Kabar Monumen di Alun-alun Contong?

Isi plakat adalah "Merdeka atau mati. Sewaktu petjah revolusi 17 Agustus 1945 dan berkobarnja pertempuran 10 Nopember 1945 di sekitar Djalan Kaliasin ini, sekarang Djalan Djendral Basoeki Rachmat. Trleta markas-markas pertemnpuran arek-arek Surobojo di waktu menghadapi kaum pendjadah. Surabaya 10 Nopember 1970".

Sebenarnya lokasi patung ini sangatlah strategis.Posisinyaberadi di ujungJlKomberMDuriyat menghadap keJlBasukiRachmat. Namun, sayangnya di depan patung tersebut berdiri sebuah pos polisi.
Foto: Imam Wahyudianta


Bangunan pos polisi semi permanen itu tentunya sangat menghalangi pandangan bebas ke arah patung, demikian pula akses menuju patung terhalang pos polisi.

"Penataan ruang untuk monumen perjuangan tidak terlalu diperhatikan," ujar Freddy H Istanto, pemerhati sejarah kepada detikcom, Kamis (10/11/2016).

Baca Juga: 5 Monumen Keren di Surabaya Tapi Luput dari Wisatawan

Freddy mengatakan, yang selama ini terjadi adalah monumen atau patung perjuangan hanya diletakkan di tempat yang orang hanya bisa melihatnya saja.

Contohnya adalah patung-patung yang diletakan di tengah taman yang menjadi pembatas jalan. Praktis warga Kota Surabaya hanya bisa melihatnya saja, itu pun dari atas kendaraan yang dalam keadaan melaju.

Seharusnya,kataFreddy,tetenger sejarah tersebut bisa diletakkan di tempat representatif. Tempat itu adalah lokasi yang monumen perjuangan tak hanya bisa dilihat, tetapi juga bisa dijadikan objek berfoto.
Foto: Imam Wahyudianta


"Sekarang kan banyak yang suka selfie," kata Freddy.

Adanya foto yang menjadikan monumen perjuangan sebagai objek bisa mempopulerkan monumen dan Kota Surabaya. Semakin banyak warga yang menjadikannya objek, rasa memiliki atau spirit kepahlawanan bisa muncul tanpa disadari. Identitas Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan juga akan terlihat.

Baca Juga: Tugu Sura dan Buaya, Landmark Paling Top Surabaya

Fakta yang terjadi selama ini justru patung Suro dan Boyo yang berada di Kalimas dan depan Kebun Binatang Surabaya yang menjadi pilihan foto selfie oleh wisatawan maupun masyarakat.

"Sayangnya yang paling banyak dijadikan objek foto adalah patung Suro dan Boyo," keluh Freddy.

(iwd/ugik)
Berita Terkait