Diceritakan oleh Supri, ayah NR, peristiwa pengeroyokan itu terjadi pada Jumat (4/11/2016). Lokasi pengeroyokan di sebuah lahan kosong di komplek pertokoan di dekat jembatan tol Waru. Peristiwa itu terjadi sepulang sekolah sebelum Salat Jumat.
"Sepulang sekolah, anak saya diajak teman-temannya ke sebuah lahan kosong. Di situ anak saya dipukuli," ujar Supri saat dihubungi, Selasa (8/11/2016).
Supri menyebut ada sekitar 10 teman anaknya yang ikut memukuli. Pengeroyokan itu membuat NR mengalami luka. Telinga kiri bengkak, dua gigi atas retak, punggung memar, hidung bengkak dan kepala bagian atas bengkak. Tentu saja luka-luka tersebut mengeluarkan darah.
"Anak saya masih menyimpan tisu yang ada darahnya. Itu darah karena pengeroyokan," kata Supri.
NR sendiri enggan bercerita ke orang tuanya pascakejadian itu. Dia langsung mengurung diri di dalam kamar. Supri baru tahu apa yangterjadi pada anaknya pada Sabtu (9/11/2016) pagi. Supri melihat ada yang aneh dengan anaknya.
Saat ditanya, NR akhirnya menceritakan semuanya. Menurut pengakuan NR, dirinya dikeroyok akibat salah paham. Sebelumnya mereka saling olok dan ejek, namun teman-teman NR salah paham dan akhirnya mengeroyoknya. Hari itu juga NR enggan bersekolah.
Alasannya, pelajar kelas I jurusan Teknik Gambar dan Bangunan tersebut takut dengan mereka yang telah mengeroyoknya. Setelah dikeroyok memang ada ancaman dari para pengeroyok agar tak menceritakan kejadian itu ke siapapun. Hingga hari ini, NR masih enggan bersekolah.
"Kalau bercerita atau lapor, anak saya diancam akan dihabisi. Karena itu dia takut sekolah," lanjut Supri.
Supri mengaku langsung datang ke sekolah pada hari Sabtu itu. Supri diterima oleh wali kelas dan guru Bimbingan Konseling (BK). Pihak sekolah saat itu mengaku bahwa kasus ini akan diselesaikan secara damai.
"Saya sendiri tidak masalah jika anak saya juga dihukum karena kesalahannya," terang Supri.
Supri mengaku sudah melaporkan kasus ini ke polisi. Dan saat ini dirinya masih dimintai keterangan oleh polisi. Kapolsek Gayungan Kompol Esti Setija Oetami mengaku belum mendapat laporan dari anak buahnya tentang adanya laporan kasus tersebut. Tetapi Esti tahu adanya kasus ini.
"Pihak kepala sekolah menelepon saya dan mengatakan bahwa kasus ini akan diselesaikan oleh sekolah," kata Esti.
Esti mengatakan bahwa pihaknya tetap akan memproses dan menindaklanjuti laporan dari pihak korban. Pemeriksaan dan visum pasti akan dilakukan. Namun Esti sendiri berharap bahwa kasus ini bisa diselesaikan secara damai meski ada laporan ke polisi.
"Kami akan mendatangi sekolah agar kasus ini bisa diselesaikan," tandas Esti. (fat/iwd)











































