KKP dan ITS Kembangkan Metode Pendeteksi Kesegaran Ikan Tuna

KKP dan ITS Kembangkan Metode Pendeteksi Kesegaran Ikan Tuna

Zainal Effendi - detikNews
Sabtu, 05 Nov 2016 12:14 WIB
KKP dan ITS Kembangkan Metode Pendeteksi Kesegaran Ikan Tuna
ilustrasi/Foto: Eduardo Simorangkir
Surabaya - Laut Indonesia sangat luas dan memiliki kekayaan ikan tuna yang melimpah. Namun sangat minim pengetahuan dari nelayan usai menangkap ikan sehingga melakukan pengawetan ikan dengan bahan yang berbahaya.

Untuk mengantisipasi itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI melalui Loka Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan (LPP-MPHP) Bantul untuk pelaksanaan penelitian dan pengembangan metode deteksi kesegaran ikan non destruktif pada ikan tuna.

"Dalam kerjasama ini, kami akan mendesain alat deteksi untuk kesegaran ikan serta berencana turut membantu untuk mendukung poros maritim dunia terkait isu yang pernah diberikan oleh KKP," kata Wakil Rektor IV ITS Bidang Penelitian Prof Dr Ketut Buda Artana ST MSc melalui siaran pers yang diterima detikcom, Sabtu (5/11/2016).

Sementara itu, Ketua Departemen Teknik Elektro ITS Dr Eng Ardyono Priyadi ST MEng berharap perjanjian kerjasama yang menghasilkan data, informasi, serta hasil pengujian diharapkan hasil pengujian ini tepat mengenai sasaran kepada para nelayan kecil.

"Kami (ITS) juga akan melakukan penelitian mengenai energi alternatif berasal dari air laut yang dikatalis," ujar Ardyono.

Tahap awal, LPP-MPHP Bantul bersama ITS akan melakukan penelitian terkait dengan desain alat deteksi kesegaran ikan non destruktif pada ikan tuna.

"Potensi tuna di laut kita sangat besar, karena itu untuk melindungi konsumen sekaligus juga nelayan saat memasok hasil tangkapan mereka, alat deteksi ini diharapkan dapat membantu peningkatan produksi ikan tuna untuk kepentingan lebih besar lagi," ujar Zainal Arifin dari LPP-MPHP Bantul.

Selama ini lanjut Zainal, pemeriksaan ikan tuna hanya dilihat secara fisik, yang kerap kali saat akan dikonsumsi ikan tersebut sudah rusak. Dengan menggunakan alat ini, maka kepastian ikan masih dalam kondisi segar, layak konsumsi atau malah sudah rusak akan terdeteksi lebih awal.

"Cara kerjanya, dengan mendeteksi melalui sensor bau dari kandungan alat amoniak pada ikan serta sensor citra gambar untuk mata ikan. Ikan diletakkan pada alat itu, kemudian lewat sensor akan diketahui, apakah ikan itu memang masih dalam kategori segar, layak konsumsi atau bahkan dikategorikan rusak," ungkap Zainal.

Riset yang akan dilakukan dengan menghimpun data-data terhadap ikan dengan tiga kategori tersebut, melalui pengumpulan data yang akan dihimpun dalam data base sebagai rujukan kerja sensor bau dan citra mata ikan.

"Selama ini prototipe alat yang sudah ada bekerjanya masih manual, sehingga membutuhkan waktu lima menit untuk mengetahui kondisi ikan. Diharapkan dengan kerja sama ini, kami bisa mengotomatisasi alat ini, sehingga bisa bekerja lebih cepat dan untuk jumlah yang banyak," pungkas Zainal. (ze/ugik)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini