Puluhan busana etnik hasil daur ulang sampah itu, dipamerkan di halaman Islamic Centre Pamekasan. Sebelum dipamerkan, belasan pelajar putri terlihat memakai busana berbahan sampah dan memperagakan bak peragawati.
Walhasil, kreasi pelajar itu menyedot perhatian ribuan warga yang memenuhi halaman Islamic Centre di Jalan Raya Panglegur Pamekasan tersebut.
Kreasi menyulap sampah menjadi busana etnik itu merupakan mata acara Festival Sampah dan Pamekasan School Fair 2016 yang digelar Kantor Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pamekasan.
Kepala BLH Pamekasan, Amin Jabir, mengatakan festival inimerupakan event tahunan yang bertujuan menjadi wahana kreasi pelajar se Kabupaten Pamekasan.
"Dengan festival sampah yang diikuti oleh 30 sekolah dari jenjang SD sampai SMA dimaksudkan menjadi wahana kreatifitas pelajar dalam rangka peduli sampah. Dari festival sampah ini, seluruh pelajar sejak dini sadar sampah. Artinya, terus menerus menjaga kebersihan. Baik di lingkungan rumah, sekolah maupun di lingkungan umum," papar Amin Jabir, Selasa (18/10).
Bagi pelajar yang berhasil berkreasi dengan menyulap sampah menjadi barang berguna seperti busana etnik, dan barang souvenir lainnya, akan diberikan piagam penghargaan yang ditandatangani Bupati Pamekasan.
Nindya (16), salah seorang peserta busana etnik berbahan sampah, mengatakan, dirinya sangat bangga dengan busana etnik hasil kreasi kelompoknya di sekolah.
"Setelah bersusah payah mendisain busana etnik bersama kawan-kawan sekolah, saya bangga memamerkan dengan menjadi peserta peragawati dadakan di Islamic Centre. Semoga acara festival sampah ini bisa dilanjutkan saban tahun," harap siswa SMK Negeri 3 Pamekasan itu.
Bupati Pamekasan, Ahmad Syafii, menyatakan, untuk tahun ini
penghargaan bagi siswa kreatif mengolah sampah jadi barang berguna hanya mendapat piagam penghargaan. "Insya Allah, pada festival sampah tahun depan akan ada hadiah uang pembinaaan bagi siswa kreatif tersebut," tandasnya. (fat/fat)











































