Dalam even ini, ikan yang dibakar yakni, kakap, putihan, lemuru, kerapu, kerapu zebra dan lain-lain. Biasanya di dermaga ini hanya sebagai tempat transaksi penangkapan ikan dari laut untuk dipindah ke darat. Tapi hari ini dermaga berubah jadi wahana pembakaran ikan. Jalanan disepanjang dermaga dipenuhi bata dan panggangan ikan yang ditata rapi disertai asap berkepul.
Panitia sempat kerepotan mengatur pengunjung yang mendekati pemanggangan saat ikan sedang dibakar. Tak ayal ikan yang dibakar jadi rebutan warga untuk disantap. Untungnya, kondisi ikan sudah setengah matang sehingga masih bisa dinikmati.
"Jangan yang ini, belum matang. Yang ini sudah matang, monggo disantap jangan berebut," ujar Siti Aminah, warga Muncar sambil sibuk mengipasi ikan yang dibakar.
Tak lupa, Siti menyediakan sambal yang pedas dan lezat untukdicocol dengan ikan bakar yang sudah matang. "Sambalnya mantap.Pedes dan bumbu ikannya terasa," ujarShandi warga Malang, yang sengaja datang dalam festival ini.
Foto: Ardian FananiFestival ikan bakar |
"Even ini bisa menjadi nilai tambah masyarakat nelayan dari hanya sekedar menjual ikan ketika yang turun dari kapal dengan harga murah. Tetapi Kalau mereka mau membakar ikan kemudian dibumbui, keuntunganya bisa 400 persen. Harapan saya, acara ini menjadi stimulus bagi warga Muncar untuk bisa mengolah ikan, seperti membakar ikan dan menyajikan ikan yang benar dan enak," ujarnya.
Selain itu, kata Bupati Anas, digelarnya even semacam ini bisa menaikkan pendapatan nelayan, terutama saat siklus ikan mulai turun. Misalnya saat ini musimnya tangkapan ikan nelayan agak sepi, dengan adanya festival ini banyak wisatawan yang penasaran datang ke Muncar untuk melihat pasar ikan di sini. Muncar bisa menjadi destinasi wisata bahari alternatif.
"Ini bisa mendorong perekomian mereka tetap tumbuh. Untuk menjadikan Muncar sebagai destinasi bahari yang menarik, saya minta nelayan dan pedagang ikan terus menjaga kebersihan pelabuhan Muncar. Sekali lagi, olahan produk dari hasil laut juga terus ditingkatkan untuk menjadi oleh-oleh wisatawan," ujar Anas.
Lewat festival ini, imbuh Bupati Anas, akan menjadi inspirasi rakyat untuk menggelar even serupa. "Festival ini harapan saya akan tumbuh di beberapa wilayah, seperti Rogojampi, Pancer, yang memiliki TPI," harap Anas.
Produksi perikanan tangkap di Banyuwangi meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015 ini produksi perikanan tangkap di Banyuwangi mencapai 61,178 juta kg, naik dibanding 2014, yang mencapai 60,66 juta kg. Adapun perikanan budidaya mencapai 25,11 juta kg pada tahun 2015, sedangkan 2014 24,21 juta kg.
Total nilai perdagangan untuk perikanan tangkap mencapai Rp 1,244 triliun 2015, Rp 1, 024 triliun di tahun 2014. Adapun perikanan budidaya sebesar Rp 841,207 miliar di tahun 2015, turun nilai rupianya dari 2014 Rp. 877, 586 juta.
Festival ikan tersebut mampu menaikkan omzet sejumlah pedagang ikan. Salah satunya, Siti Suliyah (45). Saat ada festival ikan bakar dibuka, ikannya laku sekitar 50 kg, dengan jenis ikan yang bervariasi. Misalnya, ikan kakap kecil dijual Rp 30 ribu/kg, kakap Rp 35/kg dan ikan putihan Rp 45/kg.
Selain pedagang, para pengunjung yang hadir pun merasa puas dengan gelaran ini, mereka tidak hanya menikmati ikan bakar saja, namun mereka bisa membeli beraneka produk olahan hasil laut Banyuwangi. Seperti nugged ikan, abon, ikan asin kering, hingga kerupuk ikan.
Banyuwangi Fish Market Festival ini merupakan rangkaian agenda Banyuwangi Festival 2016. Di tempat yang sama, besok Minggu (16/10) akan digelar Petik Laut Muncar, sebuah upacara sedekah laut sebagai bentuk ucapan syukur atas keberkahan hasil laut yang didapat Nelayan Muncar. (fat/fat)












































Foto: Ardian Fanani