Dari hasil pemeriksaan dan observasi yang dilakukan dr Agnes, diketahui jika AR tidak mengalami gangguan jiwa. Psikiater asal RS Bhayangkara Polda Jatim itu memastikan perbuatan AR dilakukan dalam keadaan sadar.
"Perbuatan tersangka diakibatkan adanya tekanan dari diri sendiri dan korban," ujar Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga dalam pesan yang diterima detikcom, umat (14/10/2016).
Shinto mengatakan, tekanan yang terjadi pada diri AR diakibatkan kondisi kehidupan dalam keluarga dan lingkungannya yang kurang baik. Diketahui jika AR merupakan produk broken home.
Anak sulung dari tiga bersaudara itu pernah jadi korban kekerasan ayahnya. AR juga pernah dikurung orang tuanya saat melakukan kesalahan.
Apakah pembunuhan yang dilakukan AR sudah direncanakan? Menurut keterangan dokter, pembunuhan itu terjadi spontan dan tidak direncanakan. Spontanitas terjadi akibat dari emosi yang tidak terkontrol.
Emosi yang tidak terkontrol itu juga bisa dilihat saat AR masih saja menganiaya Gowinda meski Gowinda sudah menjadi mayat. "AR bilang iya, dia menganiaya korban saat korban sudah tak bernyawa," tandas Shinto. (iwd/fat)











































