Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengumpulkan sejumlah elemen terkait dalam rapat koordinasi bersama. Rapat koordinasi dihadiri oleh jajaran kepala desa, sekolah menengah kejuruan (SMK), sejumlah kampus, dan UMKM sektor industri kreatif.
"Sudah saatnya elemen-elemen ini bergerak bersama untuk membangun ekonomi kreatif berbasis desa. Saya selalu tekankan harus berbasis desa agar terukur dampak ekonominya di tiap-tiap desa. Ini ada perwakilan kepala desa yang hadir, jadi saya harap bisa klop dengan teman-teman dari dunia pendidikan dan pelaku usaha ekonomi kreatif," ujar Anas usai pimpin koordinasi di aula Rempeg, Selasa (27/9/2016).
Anas mengatakan, perlunya SMK mengintegrasikan program dengan Politeknik Negeri Banyuwangi atau Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Banyuwangi. Program bersama itu nantinya ditularkan ke desa-desa.
"Jurusan di SMK yang ada di Banyuwangi kan sangat banyak, yang terkait ekonomi kreatif misalnya ada tata boga dan batik. Ada 72 SMK Negeri/Swasta dengan jumlah siswa tiap tahunnya mencapai 8.500 siswa. Ini potensinya luar biasa jika dioptimalkan menggerakkan ekonomi kreatif berbasis desa," ujar Anas.
Pemkab Banyuwangi, sambung Anas, juga mempunyai 400 program pelatihan tiap tahunnya untuk masyarakat luas, termasuk di desa-desa.
Para siswa SMK bisa dilibatkan dalam pelatihan. Anas telah meminta basis data dari Dinas Pendidikan terkait jurusan dan jumlah masing-masing siswa SMK yang nantinya akan diintegrasikan dengan pelatihan di desa-desa.
"Mulai 2017, pelatihan ini akan saya integrasikan dengan pelajar SMK, khususnya yang kelas dua. Sehingga hasil dari pelatihan ini lebih optimal. Ketepatan sasarannya terukur. Jadi nanti gabungan antara siswa SMK dan masyarakat luas, sehingga follow-up-nya bisa terukur. Biar ekonomi desa ikut bergerak dengan kehadiran siswa-siswa SMK itu dengan segala kreativitasnya," ujarnya.
Sekolah, lanjut Anas, tidak lagi bisa menjadi menara gading. Pemda-lah yang akan menjembataninya.
"Kita latih, kita bikin zona dan sasaran yang tepat. Maka ekonomi kreatif berbasis desa bukan lagi sesuatu yang utopis," jelas Anas. (trw/trw)











































