Berat badan Yunita saat masuk RSUD Sidoarjo 120 kg, namun setelah dirawat beberapa menjadi 129 kg. Itu dikarenakan Yunita masih makan makanan dari luar rumah sakit atas pemberian orangtuanya. Padahal, pihak rumah sakit sudah memberikan porsi makan 3 kali sehari.
Kini, Yunita harus menjalani diet ketat dengan pengawasan khusus dari tim medis. Selain itu Yunita juga memakai pendeteksi kondisi pernafasan dan jantung, serta bantuan oksigen. Sebab kondisi pasien sudah lemah.
Salah satu tim dokter RSUD Sidoarjo, dr Sany R Siswardana mengaku pasien mengalami gangguan pertukaran oksigen di paru dan pembuluh darah. Akibatnya tekanan jantung kanan meningkat berdampak pada sesak nafas.
"Pasien kami pindah ke ICCU karena ada penurunan pertukaran gas antara paru-paru dan peredaran darahnya," kata Dr Sany R Siswardana kepada wartawan di RSUD Sidoarjo, Kamis (15/9/2016).
Dia menambahkan, tekanan oksigen sempat menurun hingga sekitar 33 persen. "Jadi ya kami transfer ke ICCU karena ada gangguan pertukaran udara di paru-paru. Kini kondisinya sudah lebih baik, saturasinya sudah 99 persen, imodinamik stabil, nadinya normal dan tensinya juga normal," tegasnya.
Sementara tim medis RSUD Sidoarjo hingga kini masih berusaha mencari penyebab gangguan pertukaran oksigen. Selain itu, tim medis juga memberlakukan diet ketat terhadap pasien dengan melarang pasien makan makanan dari luar.
Seluruh makanan yang dimakan pasien kini harus melalui pengawasan ahli gizi rumah sakit, setelah sebelumnya pasien sempat makan makanan dari luar yang diberikan orang tuanya.
Dia menuturkan, Kondisi pasien saat ini hanya bisa berbaring di atas tempat tidur dengan bantuan oksigen. Saat ini, tim medis RSUD Sidoarjo akan terus berusaha untuk menstabilkan kondisi tubuh pasien obesitas tersebut. (fat/fat)











































