Tak seperti biasanya, sejak pagi tadi halaman Ponpes Tebuireng terlihat banyak kesibukan. Puluhan santri tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Ada yang mengiris daging kurban, menusuk potongan daging dengan tusuk sate, meracik bumbu, hingga menyiapkan arang. Mereka tak hanya kompak saat mengaji, mereka juga piawai membuat sate.
Saat semua itu siap, dengan wajah ceria para santri putra itu membakar sate bersama di halaman pondok. Secara bergiliran mereka mengipas bara di tungku pembakaran agar sate lekas masak.
"Kalau pulang ke rumah, bakar sate hanya sama keluarga. Kalau di pondok, asyik bisa bakar sate rame-rame," kata Alfian Zulkarnain, salah seorang santri asal Kabupaten Gresik.
Sate yang telah masak pun mereka santap bersama-sama. Suasana guyup dan rukun begitu kental. Menurut Zulkarnain, dirinya enggan mudik lantaran libur sekolah di pondoknya hanya dua hari.
"Hanya bikin capek kalau pulang, mending di pondok," ujar santri kelas XI SMA Wahid Hasyim itu.
Sementara Kepala Pondok Putra Tebuireng, Iskandar menuturkan, daging kurban salah satunya memang dibagikan kepada santri. Menurut dia, tahun ini Ponpes Tebuireng menyembelih 27 ekor hewan kurban. Terdiri dari 18 ekor sapi dan 9 ekor kambing.
"Daging kurban ini dibagikan kepada masyarakat sekitar pondok, santri dan karyawan pondok," terangnya.
Dia menambahkan, bakar sate bersama yang dilakukan para santri memang sengaja dijadikan tradisi setiap Hari Raya Idul Adha. "Tradisi ini untuk menjaga kebersamaan bagi para santri," pungkasnya. (fat/fat)











































