"Mencapai 50 ribu ekor. Beberapa sapi memang kita datangkan dan kita kirim ke beberapa kota. Batam, Pekanbaru, Lampung, Jakarta dan Kalimantan. Permintaan banyak," ujar Agus Supriyadi, distributor sapi Bali asal Banyuwangi, kepada detikcom, Jumat (2/9/2016).
Banyaknya permintaan ini, kata Agus, lantaran sapi yang berciri berkulit coklat agak kehitaman ini, lebih murah dibandingkan dengan sapi jenis lainnya. Dengan bobot 250 - 850 kilogram, sapi Bali dibandrol harga antara Rp 15 sampai Rp 25 juta. Untuk bulan haji ini, harga sapi Bali meningkat hingga Rp 10 ribu perkilo bobot hidup. Tak hanya itu, daging sapi Bali lebih banyak dibandingkan dengan sapi lain.
"Harganya murah dibandingkan harga sapi lain. Sapi Bali lebih banyak dagingnya sekitar 65 persen dari bobot hidup. Sapi Limousin hanya 55 persen sisanya tulang. Harganya juga mahal antara Rp 35 juta sampai Rp 50 juta," tambah Agus.
Sementara untuk pengadaan sapi Bali, kata Agus, dirinya harus berburu hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Namun kebanyakan stok sapi Bali yang didapatnya berasal dari Kabupaten Jembrana dan Kintamani, Bali.
"Perbedaannya ada jika dari Bali lebih besar karena dirawat, sementara dari NTB dan NTT lebih kecil dilepasliarkan," tambahnya.
Namun sayang, kata Agus, banyak penyelundupan sapi Bali tanpa disertai berkas-berkas dan melalui karantina. Banyak sapi-sapi dari Bali yang dikirimkan dipalsukan dokumennya, sehingga tak terdeteksi oleh pihak keamanan.
"Harus lebih ketat pengawasannya. Jangan sampai sapi yang sakit dikirim ke Jawa atau daerah lain," pungkasnya.
Sementara itu, Santoso, pembeli sapi Bali untuk Kurban mengaku memilih sapi Bali karena murah. Selain itu, daging yang didapat untuk dibagikan saat Idul Adha nanti lebih banyak.
"Kita pilih kualitas. Kita beli banyak untuk dijual lagi di Surabaya," ujar pria asal Jember ini. (bdh/bdh)










































