Kasubbag Humas Polres Mojokerto Iptu Suyono mengatakan, kedua pelajar yang menjadi korban polisi gadungan itu adalah Muhammad Yemi Ermawan dan Alfian Andiansyah. Kedua pelajar asal Desa Tunggal Pager, Kecamatan Pungging itu hendak berwisata ke kawasan Cangar, Kota Batu.
Sampai di jalan sepi Dusun Sendi, kedua korban yang berboncengan dihadang oleh pelaku. Dengan wajah garang, Kentung yang beraksi seorang diri, mengaku sebagai polisi dan menanyakan surat-surat kendaraan korban.
"Korban kebetulan tidak membawa SIM. Kemudian pelaku meminta HP kedua korban, tapi sempat ditolak korban. Kemudian pelaku mengancam korban dengan senjata api mainan," kata Suyono, Senin (1/8/2016).
Saat diancam, lanjut Suyono, kedua korban ketakutan lantaran mengira pistol yang diacungkan pelaku senjata api sungguhan. Oleh sebab itu, kedua pelajar asal Kecamatan Pungging itu merelakan smartphone merk Vivo dan Evercoss untuk dibawa kabur pelaku.
Saat berusaha kabur itu lah, aksi Kentung menyamar sebagai polisi justru terbongkar. Melihat ada beberapa anggota polisi di Jalan Dusun Gutean, Desa Pacet, pelaku yang ketakutan memilih kabur ke dalam hutan. Pemuda 20 tahun itu meninggalkan sepeda motor Supra X bernopol S 6347 R di tepi jalan.
"Korban sadar kalau ditipu pelaku saat melihat pelaku tiba-tiba kabur ke hutan. Namun, petugas yang menerima laporan korban hanya menemukan sepeda motor pelaku," ujarnya.
Dari nopol sepeda motor tersebut, Kata Suyono, pihaknya berhasil melacak identitas pelaku. Kentung diringkus petugas saat bersembunyi di rumahnya.
"Barang bukti yang kami sita berupa sepeda motor pelaku, helm warna biru, tas pinggang motif doreng milik pelaku, dan dua smartphone korban," terangnya.
Kepada petugas, Kentung mengaku baru sekali beraksi dengan menyamar sebagai polisi. Akibat perbuatannya, menurut Suyono, tersangka dijerat dengan Pasal 365 KUHP tentang Pencurian dengan Kekerasan. "Ancaman pidananya di atas lima tahun penjara," tandasnya.
Sementara itu, Kentung mengaku nekat menjadi polisi gadungan lantaran ingin mempunyai smartphone. Dia berdalih, penghasilannya sebagai pencari rumput tak cukup untuk membeli ponsel pintar.
"Saya ingin punya HP untuk mainan dan mendengarkan musik," cetusnya sembari tertunduk lesu. (bdh/bdh)











































