Kegiatan ini, merupakan program Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dalam antisipasi perkembangan faham radikalisme di Indonesia khususnya di wilayah pesisir.
Acara sengaja digelar secara ganyeng. Polisi memanggil perwakilan masyarakat untuk naik ke panggung. Mereka diuji menghafal dan mengenali lambang Pancasila serta menyanyikan lagu perjuangan. Namun sayangnya, kedua perwakilan tersebut tak hafal lambang Pancasila dan lagu perjuangan.
"Lambang sila ketiga itu padi dan kapas," ujar perwakilan masyarakat yang disambut tawa peserta lain.
"Wah kok ndak hafal ya. Besok hafalan lagi ya?" ujar Kepala Satuan Patroli Daerah (Kasatrolda) Ditpolair Polda Jatim, AKBP Heru Prasetyo, yang memimpin kegiatan tersebut.
AKBP Heru menilai wajar kesalahan yang dilakukan dua perwakilan warga itu. Kejadian ini menggambarkan tidak semua warga NKRI hafal pancasila plus perlambangnya. Bahkan hasil survei sebuah radio swasta di Surabaya menyebut 40 persen mahasiswa di Surabaya tidak hafal dasar negara.
"Menghafal lambang pancasila kok terbalik masih biasa. Intinya masih ingat meski tidak hafal. Karena masih ada yang lebih parah," lontar mantan Wakapolres Banyuwangi ini.
Menurut AKBP Heru, kegiatan ini tak hanya dilakukan sehari. Selain menggelar sosialisasi penertiban ajaran radikal Ditpolair Polda Jatim bersama Satpolair Polres Banyuwangi pada Selasa malam (26/7) kemarin, juga menggelar cangkrukan bareng warga pesisir Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran dan nelayan Desa Gragajan, Kecamatan Purwoharjo.
"Tiga hari kami melakukan temu muka dengan warga pesisir. Tujuannya memberikan pemahaman tentang hukum perairan serta penaggulangan paham radikal yang berpotensi muncul di kawasan pesisir seperti kasus Poso," pungkasnya.
Asisten Perekonomian Pemda Banyuwangi, Wiyono menilai positif kegiatan polisi perairan. Ini merupakan bentuk Quick Win dan kepedulian aparat kepolisian terhadap warga Pancer yang jaraknya jauh dari pusat kota.
"Aparat sadar, tidak ada polisi tanpa rakyat. Kalau tidak peduli mana mungkin polisi perairan jauh-jauh datang dari Surabaya dan Banyuwangi menggelar acara di sini," papar Wiyono.
Di mata Pemkab Banyuwangi, Pesanggaran termasuk Pancer memiliki potensi strategis. Selain memiliki tambang emas, kecamatan di ujung selatan Bumi Blambangan juga memiliki wisata pantai yang dikenal dunia. Potensi itu juga bisa menimbulkan kerawanan termasuk berkembangnya paham radikal. Karena itu dirinya mengimbau agar warga tidak mudah salah kaprah dalam memahami paham atau ajaran yang berkembang. (fat/fat)











































