Film dengan judul Pisau Putih tersebut telah diuji di Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Airlangga (Unair) di hadapan empat dosen penguji. Mereka adalah Prof Dr Mustain Mashud Drs MSi, Dr Djoko W. Tjahjo SE MSi, Prof Dra Rachmah Ida, M.Comm PhD dan Benny Wicaksono. Karya visual tersebut diganjar nilai A.
"Film ini sebagai persembahan untuk kakak saya, Hisar, yang meninggal tragis dua tahun yang lalu," ujar Tetty saat ditemui detikcom usai merampungkan sidang tesisnya, Rabu (20/7/2016).
Tetty memang mendapat ide membuat film dari kisah nyata kakak kandungnya yang berprofesi sebagai pendeta. Saat itu kakaknya mengalami permasalahan berat dalam rumah tangganya. Istri kakaknya yang berprofesi sebagai hakim itu berselingkuh.
Akibat perselingkuhannya, istri kakaknya dipecat oleh Komisi Yudisial. Perselingkuhan itu membuat keduanya bercerai. Perselingkuhan yang berakhir dengan perceraian itu membuat posisi kakaknya sebagai pendeta menjadi goyah.
Institusi sinode gereja, sebuah institusi yang mengeluarkan jabatan pendeta, berniat memecat kakak Tetty. Adanya tuntutan kesempurnaan bahwa kehidupan pernikahan pendeta tidak boleh bercacat cela inilah yang membuatnya diancam pecat.
Ada satu poin dalam tata tertib pendeta yang dikeluarkan oleh sebuah sinode gereja, bahwa pendeta yang rumah tangganya bermasalah, melakukan perceraian dengan isteri atau suami, akan langsung mendapatkan sanksi disiplin berupa pemberhentian secara tetap (pemecatan), tanpa melihat kasus per kasus.
Dengan film yang dibuatnya, Tetty ingin agar aturan sinode gereja bisa dievaluasi melalui teori dekonstruksi yang dikemukakannya. Teori Dekonstruksi dicetuskan oleh Jacques Derrida yang menyatakan bahwa kebenaran tidak harus tunggal dan absolut. Pemikiran dekonstruktif Derrida berupaya untuk menunjukkan bahwa ada
pemikiran lain yang bisa menjadi pemikiran alternatif disamping pemikiran yang telah ada.
Dengan teori ini, Tetty menitikberatkan pada poin sanksi disiplin yang sekiranya dapat didekonstruksi, diperbaharui, dan diperjelas. Sebab pendeta sebagai seorang suami yang dikhianati juga adalah manusia biasa. Menurut Tetty, pendeta yang mengalaminya adalah korban dari istri/suami yang berzina, bukan sebagai pelaku perselingkuhan dan agar tidak serta merta dipecat.
"Jika si pendeta adalah korban, itu artinya ia sedang mengalami suatu kekecewaan dan sakit hati. Harusnya dalam keadaan demikan, ia dibimbing dan direhabilitasi, tidak perlu dipecat," jelas Tetty dalam argumennya.
Dalam perjalanan waktu, ancaman pecat itu ternyata semakin membuat sang kakak terpuruk dan mengalami depresi berat. Kakak kandung Tetty kemudian divonis menderita kanker otak dan akhirnya meninggal dunia hanya lima bulan setelah kasus tersebut. Walaupun surat pemecatan dari sinode itu tidak pernah sampai ke tangan kakaknya, karena ia keburu meninggal, namun ancaman pecat tersebut telah memperdalam depresi yang dialaminya.
Tetty yang kini berhak menyandang gelar M. Med. Kom itu berani membuat tesis dengan menciptakan karya sendiri dan juga dianalisis sendiri karena itu memang diperbolehkan. Biasanya mahasiswa lain membuat tesis dari penelitian atau karya orang lain. Mahasiswa lain juga berpikir bahwa dengan menciptakan karya sendiri, maka ada dua pekerjaan yang harus dilakukan yakni membuat dan menganalisis, suatu pekerjaan yang dianggap kurang efisien karena dua kali kerja.
"Saya memang nekat karena film ini memiliki tujuan penting dan sebagai persembahan untuk kakak," kata lulusan Institute of Technology (RMIT) Australia ini.
Film ini, kata Tetty, rampung setelah melalui proses produksi selama enam bulan dengan rangkap pekerjaan yang ia emban yakni sebagai sutradara, produser, penulis naskah, pembuat story board, kameramen dan juga aktris
"Untuk menghemat biaya, kami menggunakan peralatan dari production house milik suami saya serta wardrobe milik pribadi. Syuting juga kami lakukan di rumah pribadi, gereja, dan rumah sakit Unair," tandas Tetty.
Salah satu dosen pembimbing dan penguji, Benny Wicaksono, mengatakan bahwa salah satu hal yang menarik dari karya Tetty adalah keorisinalitas karya yang memang diproduksi sendiri. Dan karya Tetty, kata Benny, adalah karya produksi pertama kali dalam bentuk visual bergerak (film) yang dijadikan tesis dalam program studinya.
"Sebelumnya juga ada tesis karya sendiri, namun bukan dalam bentuk film, tapi foto," ujar Benny.
Apa yang membuat Tetty mendapat nilai A, menurut Benny adalah Tetty bisa memperdebatkan teorinya. Tetty juga bisa memberikan argumen yang bagus serta menguasai materi. "Tetty sanggup mempertahankan karya ilmiahnya," tandas Benny. (iwd/fat)











































