Operasi Pasar di Jember Gagal Turunkan Harga Gula

Operasi Pasar di Jember Gagal Turunkan Harga Gula

Yakub Mulyono - detikNews
Selasa, 28 Jun 2016 16:28 WIB
Operasi Pasar di Jember Gagal Turunkan Harga Gula
Foto: Dina Rayanti-detikFinance/Iluatrasi
Jember - Harga jual gula di tingkat konsumen di Kabupaten Jember masih tinggi yakni sebesar Rp 16.000 per kilogram. Padahal, pemkab bersama Bulog Subdivre XI Jember sudah menggelar operasi pasar sejak 27 Mei 2016.

Operasi pasar digelar setiap hari di beberapa titik. Khusus gula dijual dengan harga Rp 11.750 per kilogram hingga Rp 12.000 per kilogram. Sebanyak 1,7 ton gula digelontor setiap hari untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

"Operasi pasar sudah dilakukan sejak satu bulan yang lalu. Tetapi hingga kini harga jual gula masih tinggi di pasaran," kata Kepala Bulog Sub Divre XI Jember, Khozin, Selasa (28/6/2016).

Khozin mengakui pihaknya telah gagal untuk mengintervensi pasar gula Jember secara langsung. Namun pihaknya menilai telah berhasil untuk meningkatkan daya beli masyarakat terhadap komoditas gula.

"Target utamanya memang agar daya beli konsumen stabil walaupun harga gula tinggi. Maka dari itu kita gencarkan operasi pasar hingga 1 Juli 2016 nanti," terang Khozin.

Berdasarkan pantauannya, sejak digelar operasi pasar, pedagang mengeluh karena gula yang dijual tidak laku. Pasalnya, masyarakat lebih memilih untuk membeli gula murah di operasi pasar.

"Kami sudah menawarkan kerjasama kepada para pedagang gula di pasar. Kami siap mengantarkan persediaan gula langsung ke lapak pedagang dengan harga jual Rp 12.500 per kilogram. Asalkan dengan syarat; pedagang harus menjual gulanya Rp 13.000 per kilogram," papar Khozin.

Untuk melakukan pemantauan otomatis, Bulog akan memasang banner di lapak pedagang yang telah bekerja sama tentang harga jual gula tersebut.

"Tetapi pedagang menolaknya. Mereka lebih memilih menyimpan persediaan gulanya dan dijual tetap dengan harga Rp 16.000 per kilogram," tukas Khozin.

Sementara itu, salah seorang pedagang gula di Pasar Tanjung Jember, Arik Supriadi (58) mengatakan, pihaknya memang tidak setuju dengan penawaran Bulog tersebut.

"Persediaan gula kami masih banyak, sekitar 1 kuintal. Harga beli kami ke pedagang besar dulu Rp 15.300 per kilogram. Kami tidak mungkin mencampur gula itu dan menjual Rp 13.000 per kilogram," kata Arik.

Perputaran uang untuk gula juga masih lambat dibandingkan komoditas lainnya. Setiap hari, Arik hanya bisa menjual antara dua sampai lima kilogram gula dengan harga Rp 16.000 per kilogram.

"Padahal dua bulan yang lalu saya bisa menjual gula sebanyak 40 kilogram per hari. Lebih baik saya menunggu operasi pasar selesai. Nantinya persediaan gula saya juga akan habis terbeli," pungkasnya. (fat/fat)
Berita Terkait