Ratusan Ton Buah Impor asal Tiongkok Dimusnahkan

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 22 Jun 2016 18:50 WIB
Ratusan ton buah ilegal dimusnahkan/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Sebanyak 42 kontainer atau setara 787,13 ton buah impor asal Tiongkok dimusnahkan Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya, Rabu (22/6/2016). Ratusan ton buah pir, apel dan jeruk itu tak dilengkapi sertifikat kesehatan saat masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Pemusnahan 42 kontainer buah impor ini dilakukan di salah satu pabrik pengolahan limbah di Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Ratusan ton buah impor itu digilas dengan alat berat, kemudian dikubur di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 15 meter.

Kepala BBKP Surabaya Eliza Suryati Rusli mengatakan, puluhan kontainer buah impor itu masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak antara Januari-Maret 2016. Buah apel, pir dan jeruk asal Tiongkok itu akan dikirim ke Jakarta melalui Pelabuhan Tanjung Priuk.

Namun, setelah diteliti petugas beacukai Surabaya, ternyata ratusan ton buah tersebut tak dilengkapi surat jaminan kesehatan dari negara asal. Menurut dia, hal itu melanggar Pasal 5 UU RI No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.

"Selain itu, dokumen yang dilaporkan tak sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik. Di dalam dokumen disebutkan hanya berisi buah pir, ternyata 42 kontainer itu berisi pir sebanyak 135,94 ton, buah jeruk sebanyak 375,85 ton dan buah apel sebanyak 275,34 ton," terangnya.

Eliza menjelaskan, pemusnahan buah impor ini bukan tanpa toleransi. Dia mengaku sudah memberikan kesempatan kepada pihak importir, PT Dharma Prakasa Mandiri untuk melengkapi surat jaminan kesehatan selama 14 hari kerja sejak produk masuk ke Indonesia. Namun, sampai batas waktu yang ditentukan, ketentuan itu tak dipenuhi.

"Komoditas jeruk yang tidak disertai jaminan kesehatan berpotensi membawa lalat buah. Spesies lalat buah asal Tiongkok merupakan organisme pengganggu tumbuhan yang belum ada di Indonesia. Untuk itu, menuntut kewaspadaan tinggi supaya lalat tidak masuk ke negara kita," pungkasnya. (fat/fat)