Sedangkan, mayoritas nelayan yang ada di Pelabuhan Muncar memakai kapal kecil. Sehingga dengan ombak tinggi, mereka tidak berani melaut.
"Sudah seminggu ini ombaknya tinggi. Kami tidak berani ke laut takut kebalik kapalnya mas," ujar Marwoto, nelayan Muncar kepada detikcom, Jumat (10/6/2016).
Menurutnya, jika dipaksakan melaut, tidak akan mendapatkan hasil ikan yang banyak. Bahkan bisa-bisa tak selamat saat pulang ke pelabuhan. Selain gelombang tinggi, juga diperparah dengan datangnya banjir rob yang melanda pesisir Muncar. Sehingga nelayan tidak bisa melakukan aktivitas dilaut saat ini.
Untuk mengisi waktu kosong, aktivitas nelayan, hanya melakukan kegiatan ringan, seperti memperbaiki kapal yang rusak dan peralatan melaut lainya.
"Mohon bantuan kepada pemerintah untuk melihat kami saat ini," keluhnya.
Sementara menurut Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Hasan Basri, akibat hantaman ombak, sebagian kapal milik nelayan yang bersandar di Pelabuhan Muncar rusak parah dan tenggelam. Nelayan akan kembali melaut sampai cuaca kembali normal.
"Kita masih mendata jumlah kapal yang rusak. Sampai saat ini memang sudah ada yang tenggelam karena ombak besar di pelabuhan," ujar Hasan Basri.
Sebelumnya, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, mengeluarkan peringatan terkait gelombang tinggi dan banjir rob, di perairan selatan Pulau Jawa dan Samudra Hindia. Gelombang tinggi dan banjir rob ini diperkirankan terjadi hingga tanggal 12 Juni 2016 mendatang. (fat/fat)











































