Santri Tewas Diduga Dianiaya Ternyata akibat Demam Berdarah

Santri Tewas Diduga Dianiaya Ternyata akibat Demam Berdarah

Ghazali Dasuqi - detikNews
Minggu, 29 Mei 2016 15:17 WIB
Situbondo - Penyebab kematian Herman Sahyunus (16), santri sebuah ponpes di Kecamatan Kapongan, dipastikan bukan karena dianiaya. Korban yang duduk di bangku kelas 3 MTs itu kehilangan nyawanya, akibat serangan penyakit demam berdarah (DB) yang cukup akut. Sehingga berefek pada gangguan fungsi organ lain. Salah satunya gangguan pada liver santri asal Desa Panji Kidul Kecamatan Panji itu.

"Berdasarkan rekam medisnya, korban ini meninggal karena penyakit demam berdarah yang cukup parah. Sebelum meninggal, korban sempat 4 hari di rawat di sini. Jadi ada catatan medisnya," kata dr Imam Hariyono, petugas forensik RSU dr Abdur Rahem Situbondo, Minggu (29/5/2016).

Menurut dr Imam, dari rekam medis juga diketahui sejak awal dirawat korban sudah tidak kooperatif. Artinya, kondisi korban sudah di bawah sadar. Dalam kondisi demikian, pasien seringkali berbicara tidak terarah atau ngelantur. Apalagi, hari-hari berikutnya kondisi penyakit korban semakin parah. Karena itu, dr Imam meragukan pengakuan korban, kalau penyakitnya itu akibat dianiaya di pondoknya.

"Apalagi pengakuan itu disampaikan setelah korban 3 hari dirawat. Sebab saat itu kondisi penyakit korban yang semakin parah. Tapi semuanya kembali kepada pihak keluarga," tandas dokter yang tinggal di Desa Wringinanom Kecamatan Panarukan itu.

dr Imam juga menandaskan, hasil rekam medis tidak menyebutkan korban mengalami cedera otak, seperti pengakuan korban yang telah dianiaya dengan cara kepalanya dibenturkan ke tembok. Sebab, papar dia, cedera otak berat biasanya membutuhkan penanganan cepat, yakni paling lambat 6 jam. Jika tidak, selain bisa beresiko kematian, cedera otak berat juga bisa menyababkan kecacatan pada korban.

"Tentang adanya lebam di bagian leher dan bahu, itu biasa terjadi pada mayat. Istilahnya lebam mayat. Lebam terjadi karena peredaran darah si mayat sudah berhenti. Jadi tidak identik dengan penganiayaan," tegas dr Imam Hariyono.

Mendengar penjelasan demikian, pihak keluarga Herman Sahyunus pun menjadi ragu untuk melanjutkan laporannya ke polisi. Bahkan, setelah dirembuk dengan semua unsur keluarga, mereka sepakat mencabut laporannya. Pihak keluarga akhirnya menerima kematian korban karena sebuah musibah.

"Pihak keluarga menerima setelah ada penjelasan hasil rekam medis dari dokter. Mereka menganggap kematian korban sebagai musibah. Sehingga berinisiatif mencabut laporannya," tandas Kasubbag Humas Polres Situbondo, Ipda Nanang Priyambodo.

Sebelumnya, seorang santri di Situbondo tewas mencurigakan. Ada dugaan, Firman Sahyunus (16), kehilangan nyawanya setelah dianiaya seniornya, di sebuah ponpes di Kecamatan Kapongan. Santri asal Desa Panji Kidul Kecamatan Panji, ini meninggal setelah sekitar 4 hari dirawat di RSU dr Abdoer Rahem Situbondo. Begitu melihat ada bekas cedera di bagian belakang kepala dan di bagian leher, pihak keluarga langsung lapor ke polisi. (bdh/bdh)
Berita Terkait