Menanggapi hal itu, Faida memaparkan alasan ketidakhadirannya. Menurut dia, hal itu sudah tuntas dikomunikasikan dengan DPRD Jawa Timur.
"Tidak benar empat kali bupati tidak hadir. Undangan pertama yang diundang adalah wakil dari Pemkab untuk menginformasikan segala sesuatu data dan informasi yang diperlukan oleh Pansus. Undangan ini datangnya dua jam sebelum acara. Undangannya di Jember, acara di Surabaya, tentu saja tidak bisa dihadiri," kata Faida menjawab pertanyaan mahasiswa PMII yang berunjukrasa di halaman kantor Pemkab Jember, Kamis (26/5/2016)
Kemudian, lanjut Faida, undangan kedua, pihaknya mengirim tim sesuai yang diminta oleh Pansus tambang. "Pada waktu itu bukan hanya Jember yang diundang, ada kabupaten lain. Tidak ada satu pun yang bupatinya hadir, bukan hanya Jember," kata Faida.
Sedangkan untuk undangan ketiga, Pansus Tambang DPRD Jatim mengundang bupati untuk hadir sendiri. "Saat itu saya mendapat surat tugas dari gubernur, untuk menghadiri pelatihan yang diwajibkan untuk seluruh kepala daerah, undangan pelatihan dari Kemendagri di Jakarta," jelasnya.
Sementara alasan absennya undangan terakhir atau yang keempat yang menjadi sorotan Pansus Tambang DPRD Jawa Timur, yakni pihaknya sudah berkomunikasi dengan Ketua DPRD Jawa Timur Halim Iskandar.
"Undangan keempat, memang kami ambil sikap, yang penting pertemuannya efektif. Itu juga atas perundingan saya dengan Ketua DPRD Jawa Timur Gus Halim. Beliau menyatakan bahwa tidak perlu bupati hadir sendiri. Yang penting informasi yang diperlukan oleh Dewan untuk kepentingan Jember tersampaikan," papar Faida.
"Saat itu tim yang mewakili di sana sudah menyampaikan semua yang diperlukan dan pansus menyatakan puas atas informasi tersebut dan menyatakan lengkap dan cukup untuk kebutuhan Pansus Tambang," imbuhnya. (fat/fat)










































