Penjelasan PN Surabaya agar Kejati Tak Terbitkan Sprindik Baru untuk La Nyalla

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Selasa, 24 Mei 2016 20:12 WIB
Sidang praperadilan La Nyalla di PN Surabaya, Senin 23 Mei 2016 (Foto: Imam Wahyudiyanta/detikcom)
Surabaya - Hakim Mangapul Girsang memerintahkan agar Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim tak membuka lagi kasus dugaan korupsi hibah Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jatim melalui penerbitan surat perintah penyidikan (sprindik) baru. Itu dikatakan Mangapul dalam sidang praperadilan anak La Nyalla Mattaliti yang akhirnya dikabulkan hakim pada Senin (23/5/2016) kemarin.

"Itu perintah, itu juga larangan. Sepanjang belum dicabut, harus ditaati," ujar Humas Pengadilan Negeri (PN) Surabaya Efran Basuning kepada wartawan di PN Surabaya, Selasa (24/5/2016).

Perintah agar tak ada lagi sprindik baru, kata Efran, juga terjadi pada praperadilan Budi Gunawan. Pada kasus itu tidak ada lagi sprindik baru sehingga tak ada lagi sidang praperadilan lagi.

"Kasus BG (Budi Gunawan) juga begitu," kata Efran.

Jika sprindik baru tetap keluar, lanjut Efran, akan ada pembenturan hukum. Hakim Mangapul dalam putusannya juga mengatakan bahwa jika ada sprindik baru, maka akan terjadi kegaduhan hukum dan kontraprodutif dengan penegakan hukum di Indonesia.

"Percuma, putusan (praperadilan) susah untuk berubah jika sprindiknya sama terus. Kecuali subyetivitas hakim muncul," lanjut Efran.

Ternyata ujaran agar Kejati Jatim tidak menerbitkan sprindik baru sudah ada pada sidang praperadilan sebelumnya. Memang dalam putusannya, hakim Ferdinandus tidak menyebutkan mengenai itu. Tetapi di luar persidangan,

Efran mengatakan ke media bahwa Kejati Jatim sebaiknya tidak usah menerbitkan sprindik baru lagi. Bagaimana jika perintah itu tak ditaati dan Kejati Jatim tetap menerbitkan sprindik? Efran hanya bisa berkata bahwa pengadilan tidak bisa menolak. Efran mengandaikan pengadilan seperti keranjang sampah
yang langkah hukum apapun bisa diterima.

Dalam kesempatan ini, Efran meluruskan informasi bahwa sidang praperadilan untuk penetapan La Nyalla sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah Kadin Jatim baru diajukan dua kali, bukan tiga kali. Pertama oleh La Nyalla sendiri dan kedua oleh anak La Nyalla yakni Mohammad Ali Affandi.

Sementara sidang praperadilan yang disangka diajukan La Nyalla adalah sidang peradilan yang diajukan oleh Diar Kusuma Putra dalam kasus yang sama yakni korupsi dana hibah Kadin Jatim. Saat itu Diar mengajukan praperadilan karena takut dijadikan tersangka lagi, padahal sudah ada ketetapan hukum buat dirinya. (iwd/try)