Bupati Jember Curhat di Facebook Tanggapi Demo Tolak Izin Tambang Diwarnai Adu Pukul

Bupati Jember Curhat di Facebook Tanggapi Demo Tolak Izin Tambang Diwarnai Adu Pukul

Yakub Mulyono - detikNews
Selasa, 24 Mei 2016 14:28 WIB
Bupati Jember Curhat di Facebook Tanggapi Demo Tolak Izin Tambang Diwarnai Adu Pukul
Foto: Yakub Mulyono
Jember - Menanggapi rencana perizinan tambang emas di Desa Pace, Kecamatan Silo, Bupati Jember dr Faida belum memberikan pernyataan resmi. Faida hanya menjawab dan curhat lewat status facebook, Selasa (24/5/2016).

Dalam Fanpage dr FAIDA, MMR, sekitar pukul 10.00 WIB ditulis bahwa Bupati dan Wakil Bupati Jember menolak rencana pertambangan di Silo.
Fanpage tersebut juga menyoroti insiden pemukulan aparat keamanan kepada mahasiswa yang berujukrasa, Senin (23/5) kemarin.

"Berkenaan dengan demo mahasiswa berujung bentrok saya harap saat menyampaikan aspirasi secara baik tanpa tindakan perusakan yang melanggar hukum," tulis Faida.

"Sehingga masing-masing pihak tidak dihadapkan pada kondisi yang tidak mengenakkan. Selesaikan segala persoalan dengan baik saling menghargai dan mencari solusi yang baik demi Jember lebih baik," lanjut Faida dalam postingannya itu.

Hal ini pun disambut negatif oleh beberapa elemen masyarakat. Pada saat yang bersamaan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jember, Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jember dan sejumlah tokoh masyarakat menyampaikan aspirasi kepada DPRD di ruang Banmus.

Pertemuan itu dipimpin Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi. Hadirin juga disuguhkan rekaman perobohan pintu gerbang kantor Pemkab Jember yang diduga menjadi biang insiden kericuhan.

"Dalam video itu terlihat bukan mahasiswa yang merobohkan pintu gerbang, melainkan Satpol PP Jember yang menarik gerbang hingga roboh," terang Ayub Junaidi.

Sehingga, perobohan pintu gerbang itu bukanlah salah mahasiswa. Melainkan upaya sengaja aparat keamanan untuk melakukan langkah represif kepada mahasiswa.

Perwakilan PC PMII Jember Muhammad Abdurroshodiq mengatakan, pihaknya mengutuk aksi premanisme aparat keamanan Jember kepada mahasiswa.

"Kami mendesak agar ada keadilan hukum dari aparat kepolisian atas kasus ini. Kami juga menginginkan agar Bupati Jember bertanggung jawab dan tegas atas penyelesaian kasus ini," kata Abdurrashodiq yang merupakan mahasiwa STIE Mandala Jember.

Salah seorang tokoh masyarakat M. Sholeh juga sependapat dengan mahasiswa. Dia menyesalkan sikap bupati yang hanya bersikap lewat facebook.

"Jember bukanlah Kabupaten Facebook. Itu bukan pernyataan resmi seorang bupati. Kami meminta bupati secara resmi menyampaikan pernyataan tegas terkait tambang Jember bukan lewat media sosial," tegasnya.

Akhirnya, pertemuan itu ditutup dengan penandatanganan rekomendasi kepada bupati oleh perwakilan peserta rapat. Beberapa point yang direkomendasikan diantaranya, Bupati Jember harus menolak seluruh perizinan tambang galian A dan B di Jember dan mengusut tuntas pelaku pemukulan mahasiswa saat aksi unjukrasa. (fat/fat)
Berita Terkait