Pengelola Rumah Apung Bangsring sekaligus ketua kelompok nelayan Bangsring Samudra Bakti, Ikhwan Arief, menuturkan, dulunya perairan Bangsring menjadi lokasi penangkapan ikan dengan menggunakan bom ikan jenis potasium sianida. Penggunaan potasium ini dilakukan oleh nelayan yang menangkap ikan konsumsi maupun ikan hias.
Pengeboman ini membuat ekosistem dibawah laut Bangsring seperti terumbu karang rusak parah, yang akhirnya menurunkan populasi ikan secara drastis. Ironisnya lagi, saat itu persepsi nelayan ialah keuntungan menangkap ikan dengan potasium akan memberi hasil yang lebih besar.
"Mulai tahun 2000 an kami para nelayan mulai mengeluh sedikitnya jumlah ikan yang berpengaruh pada pendapatan. Tapi saat keresahan itu muncul perilaku mencari ikan dengan potasium belum berubah," kata Ikhwan ditemui di rumah apung Bangsring Under Water (Bunder), Sabtu (21/5/2016).
Saat itu, lanjut Ikhwan, mulai terbersit keinginan untuk merubah cara menangkap ikan dengan lebih aman. Salah satunya mencari alternatif potasium yang ramah lingkungan. Namun usahanya tidak memberikan hasil, semua potasium yang dipakai nelayan hanya memberikan dampak buruk bagi ekosistem laut.
Kondisi demikian terus berlanjut, lalu sekitar tahun 2008 Ikhwan tersadar jika satu satunya cara mengembalikan jumlah ikan adalah dengan menangkapnya melalui cara-cara yang ramah lingkungan. Dia pun membuat program perubahan untuk mengampanyekan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan pada nelayan.
Dengan melibatkan semua pihak mulai dari nelayan, keluarganya sampai tokoh agama dan masyarakat.
"Saat awal program ini kami luncurkan, mayoritas nelayan menentang habis habisan karena kami dianggap melawan tradisi yang sudah turun temurun dilakukan. Bahkan orang tua saya yang juga nelayan juga tidak mendukung," cetus Ikhwan.
Ada sekitar 200 lebih nelayan yang menangkap ikan di laut Bangsring. Namun waktu itu hanya 8 orang yang mendukung program perubahan. Bersama mereka inilah, Ikhwan meneruskan kampanyenya.
Salah satu caranya membangun atmosfer perubahan di sekeliling lingkungan nelayan. Mulai dari memberikan sosialisasi dan edukasi di setiap perkumpulan nelayan, yang juga diikuti pengepul ikan, sampai keluarga mereka. Bahkan ceramah Salat Jum'at di desa desa pun diminta memberikan nasehat bagaimana menjaga alam dan kelestarian laut.
"Kami benar benar mengkondisikan suasana perubahan di sekeliling nelayan sebagai upaya merubah mind set lama menjadi mind set baru yang lebih baik," tegas Ikhwan.
Selain membangun pola pikir baru, secara kelembagaan kelompok nelayan yang diketuainya juga memfasilitasi pengurusan perizinan kapal bagi nelayan yang mau merubah cara penangkapan ikannya. Mereka juga mendapatkan jaminan keamanan dari patroli keamanan selama menangkap ikan.
"Dengan cara-cara ini akhirnya banyak nelayan yang tertarik untuk mendaftar di kelompok kami dan mau mengubah kebiasaannya menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan," ujarnya.
Setelah banyak nelayan yang menghentikan pengeboman ikan, terumbu karang yang tadinya rusak mulai tumbuh kembali secara alami. Upaya transplantasi juga dilakukan untuk percepatan pemulihan. Ikan-ikan pun mulai kembali dan jumlahya terus bertambah.
Besarnya manfaat yang dirasakan nelayan ini membuat mereka juga sadar untuk mengembangkan area konservasi. Di area ini nelayan dilarang melakukan aktivitas penangkapan ikan baik menjaring maupun memancing.
"Mulai 2009 ikan-ikan sudah kembali. Area ini sebagai tempat berkembang biak ikan-ikan. Mereka akan tumbuh hingga besar sebelum akhirnya berenang ke laut lepas. Ini sebagai cara menjaga jumlah populasi ikan di laut," tutur Ikhwan.
Berkat upaya konservasi yang dilakukan tersebut, pada tahun 2014 lalu kelompok nelayan pimpinan Ikhwan mendapatkan bantuan rumah apung dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Rumah apung inilah yang kini dikembangkan sebagai destinasi wisata oleh para nelayan. Pariwisata dilokasi inipun tumbuh pesat. Setiap bulannya jumlah wisatawan yang datang sebanyak 30–70 ribu orang.
Keterlibatan nelayan mulai dari menyewakan kapal, mengelola atraksi wisata, sampai guide untuk snorkeling dan diving sampai menyewakan rumah mereka untuk homestay.
"Dengan adanya rumah apung pendapatan nelayan meningkat. Mereka mendapatkan dua penghasilan baik dari menangkap ikan maupun wisata," cetusnya. (iwd/iwd)











































