Hal ini pun membuat Badan Pusat Statistik (BPS) selaku penyelenggara geram. Pasalnya, isu tersebut akan membuat masyarakat khawatir dan menutupi permintaan data dari petugas sensus ekonomi yang asli.
"Kami sudah cek broadcast itu. Kemungkinan besar berasal dari Malang. Ini cukup Urgent untuk petugas kami di lapangan," kata Kepala BPS Jember Indriya Purwaningsih di kantor BPS Jember, Senin (9/5/2016).
Menurutnya, bagi responden yang menelan informasi ini mentah-mentah, maka akan menolak permintaan data ekonomi warga oleh petugas Sensus Ekonomi 2016.
Oleh sebab itu, pihaknya mengimbau kepada warga untuk tenang menanggapi informasi tersebut. Indriya menyebutkan, petugas Sensus ekonomi yang asli memiliki ciri khas dengan seragam dari topi hingga tas berwarna Hitam dan Oranye.
"Dominan warna mulai dari topi, rompi, tas hingga alat tulis berwarna Oranye. Selain itu, pada rompi sebelah kiri ada tulisan 'Sensus Ekonomi 2016' dan sebelah kanan bertuliskan 'BPS'. Petugas juga memilik tanda pengenal dan surat tugas yang ditandatangani oleh Kepala BPS Kabupaten," papar Indriya.
Menurut Indriya, sampai saat ini belum ada laporan terkait oknum gadungan yang beroperasi di Jember. Namun pihaknya tetap waspada akan potensi terjadinya hal tersebut.
"Kami menyayangkan momentum Sensus Ekonomi 2016 yang dilaksankan mulai 1 - 31 Mei ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Kami berharap di Jember tidak terjadi hal semacam itu," ujarnya.
BPS Jember menerjunkan sebanyaak 3.417 petugas yang terdiri dari Petugas Pencacah Lapangan (PCL) dan Petugas Pengawas Lapangan (PPL). Petugas ini akan mendata pendapatan masyarakat Jember, baik dari profesi formal maupun informal yang berada di 248 desa/kelurahan di 31 kecamatan.
(fat/fat)











































