1.000 Penari Topeng Peringati Hari Pendidikan di Alun-Alun Tugu Malang

1.000 Penari Topeng Peringati Hari Pendidikan di Alun-Alun Tugu Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Senin, 02 Mei 2016 15:50 WIB
1.000 Penari Topeng Peringati Hari Pendidikan di Alun-Alun Tugu Malang
Foto: M Aminudin
Malang - 1.000 Penari menampilkan Tari Topeng Malang di hadapan Wali Kota Moch. Anton serta jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), Kepala SKPD, pengawas, dan guru, memperingati Hari Pendidikan Nasional depan Balai Kota, Senin (2/5/2016).

Para penari adalah siswa-siswi SD dari 5 kecamatan di Kota Malang, ini menarikan Tari Topeng Bapang. Ini merupakan tarian istimewa merayakan di hari pendidikan. Seluruh siswa SD yang ikut dalam tari ini dikoordinir SMP Negeri 4, Setiap kecamatan menurunkan 200 siswa sebagai penari.

Wali Kota Moch. Anton menyampaikan sambutan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI Anies Baswedan. "Kita ingin pendidikan benar-benar berperan sebagai pelita bagi setiap anak Indonesia yang akan membuatnya bisa melihat peluang, mendorong kemajuan, menumbuhkan karakter, dan memberikan kejernihan dalam menata dan menyiapkan masa depannya," ucap Anton.

Bersamaan Wali Kota Anton mengumbar prestasi dunia pendidikan Kota Malang, secara simbolis 83 prestasi, dengan rincian 11 prestasi tingkat internasional, 7 prestasi tingkat nasional, 57 prestasi tingkat regional, 8 lembaga berprestasi.

Diakhir upacara dicanangkan Bulan Bakti Gotong Royong yang ditandai dengan pelepasan balon. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Anton turut menyampaikan 'Gerakan Magrib Mengaji' bagi para siswa. Kegiatan itu juga menghapus 'kebiasaan' siswa menonton televisi mulai pukul 17.00-19.00 wib.

"Kami harapkan peran orang tua, agar anak-anak tidak selalu menonton televisi. Mending digunakan untuk solat berjamaah Magrib dan sholat berjamaah dan mengaji, akan mampu membenahi karakter anak dan untuk mewujudkan Malang Kota Bermartabat. Ini merupakan gerakan moral agar orang tua siswa dan siswa itu sendiri bisa memanfaatkan waktu dengan baik," tegas politisi dari PKB ini.

Menurut Anton, program Maghrib Mengaji bertujuan membangun generasi muda yang berakhlakul kharimah di tengah derasnya arus hiburan yang mampu mengubah perilaku dan karakter anak-anak. "Ini urgent bagi kami, karena untuk membendung begitu dahsyatnya pengaruh hiburan yang setiap harinya ditemui para siswa.

Disisi lain, Abah Anton ingin menghidupkan kegiatan mengaji dari waktu maghrib hingga isya setiap harinya.

"Ini mencermati fenomena anak-anak banyak menghabiskan waktu menonton telivisi, maupun bermain game pada saat maghrib, dan itu terjadi hingga menjelang tidur. Kelihatannya sepele memang, tetapi ini bisa menjadi permasalahan mendasar bagi sendi-sendi keluarga, kemasyarakatan, berbangsa dan bernegara. Dengan Maghrib Mengaji turut menumbuhkan kembali arti penting keluarga," ungkapnya.

Untuk menunjukkan keseriusannya, Wali Kota Anton menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan (Dindik) selaku pelaksana untuk membuat surat edaran kepada semua sekolah dan masing-masing siswa.

"Apalagi program ini sesuai dengan visi dan misiĀ  menjadikan Malang Kota Bermartabat. Banyak manfaat Maghrib Mengaji ini, agar anak-anak tidak berkeliaran, dan juga agar anak-anak nanti perbuatannya dilandasi Al Quran," jelasnya.

Anton mengaku, hal itu penting sebagai upaya mengurangi tontotan televisi yang kurang bermanfaat bagi para pelajar. Ia pun menghimbau orang tua juga turut mengawasi pelaksanaannya.

"Kami sudah menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan agar menyampaikan kepada kepala sekolah, siswa maupun wali murid. Mungkin bisa seperti saat bulan Ramadan. Misalnya kalau salat berjamaah di masjid, mereka harus meminta tanda tangan imamnya. Tapi yang terpenting tujuan utamanya itu untuk meningkatkan pribadi muslim di kalangan pelajar," tegas Anton.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Zubaidah mengaku sudah menyebarkan surat edaran 'Gerakan Magrib Mengaji'. Program ini diyakini berjalan, karena Diknas akan menerbitkan angket untuk melihat para siswa benar-benar telah menjalankannya.

"Bagi yang beragama non muslim, juga biasa memanfaatkan untuk waktu untuk berdoa sesuai dengan keyakinannya," sebut Zubaidah terpisah.

Dinas Pendidikan Kota Malang sudah menerbitkan surat Nomor 420/35.73.307/2016 bersifat penting berisi himbauan sebagai Kota Pendidikan ingin mewujudkan anak-anak didik yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bermartabat sesuai dengan Visi Misi Kota Malang.

Meminta kepada seluruh pihak terlibat dalam proses pendidikan didalamnya guru, siswa, wali murid, untuk mematikan televisi menjelang adzan maghrib sampai dengan isya dan agar waktu tersebut digunakan untuk solat berjamaah yang diteruskan dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

"Kita sistem kepercayaan saja, dan nanti ketika ada orang tua murid tidak melakukan hal ini mereka akan malu," tambah Zubaidah.

Selain itu, Dindik juga bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) memasukkan pendidikan anti narkoba kepada seluruh siswa dari SD hingga SMA. (fat/fat)
Berita Terkait