"Untuk Surabaya ada 2.500 an personel," ujar Wakapolda Jatim Brigjen Polisi Gatot Subroto kepada wartawan seusai gelar pasukan pengamanan may day di Polrestabes Surabaya, Jumat (29/4/2016).
Gatot mengatakan, personel yang ditugaskan akan secara persuasif melakukan pengamanan. Dan personel yang melakukan pengamanan dilarang keras membawa senjata api (senpi).
"Senpi tidak diperlukan. Para buruh ini bukan musuh, tetapi mereka merupakan bagian dari kita, bagian dari masyarakat," pungkas Gatot.
May day yang diperingati dengan unjuk rasa belum pasti akan digelar di mana. Tetapi polisi akan mengarahkan para buruh agar berunjuk rasa di kantor Gubernur Jatim di Jalan Pahlawan. Alasannya sederhana, pengaturan arus lalu lintas relatif lebih mudah bila unjuk rasa dilakukan di kantor gubernur.
"Jalannya lebih luas. Bisa menampung massa buruh lebih banyak. Pengaturan arus lalu lintas juga lebih mudah," ujar Kasat Lantas Polrestabes Surabaya AKBP Andre Manuputty.
Namun polisi juga tetap stand by bila massa buruh ingin berunjuk rasa di Gedung Grahadi. Untuk penutupan jalan, Andre mengatakan bahwa sifatnya insidentil.
"Kami lihat dulu, jika memang perlu ditutup akan kami tutup dan arus akan kami alihkan atau belokkan," lanjut Andre.
Polisi juga akan melakukan penjagaan di perbatasan Surabaya. Polisi tetap mengizinkan masuk buruh dari luar Surabaya untuk masuk ke Surabaya. Tetapi bila jumlahnya sudah terlalu banyak, maka massa buruh tidak diizinkan masuk Surabaya.
"Untuk personel lalu lintas sendiri, kami menyiagakan 400 personel," tandas Andre. (iwd/fat)











































