"Jumlah penderita DB sekarang memang cukup tinggi. Kebanyakan usia balita dan anak-anak dan tersebar hampir di semua Kecamatan di Situbondo. Kita sudah menetapkan status KLB DB, dan terus berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi Jatim," kata Kepala Dinkes Situbondo, Abu Bakar Abdi, Senin (25/4/2016).
Menurutnya, faktor cuaca tidak menentu menjadi penyebab penyebaran DBD di Situbondo. Hanya satu hari hujan, lalu beberapa hari tidak turun hujan. Cuaca demikian mempercepat berkembangnya nyamuk aedes aegytpi.
"Kalau hujan sehari, terus tidak hujan tiga hari, hampir bisa dipastikan ada yang terserang DB," papar Abu Bakar Abdi.
Saat ini Dinkes Situbondo terus menggalakkan Gerakan Gesit Batik (Gerakan Situbondo Bebas Jentik). Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai kalangan sekolah, pihak desa, pihak Kecamatan, dan berbagai pihak lainnya. Lewat gerakan tersebut, pihak Dinkes di antaranya terus mensosialisasikan tata cara membasmi lerva atau jentik nyamuk aedes aegypti.
"Termasuk melakukan gerakan 3 M, yakni menutup, mengubur, dan menguras. Plus, warga kami imbau menggunakan lotion anti nyamuk," papar Abu Bakar.
Dikatakan Abu Bakar, pemberantasan penyakit DB tidak cukup hanya dengan fogging. Karena fogging hanya akan membasmi nyamuknya saja, tidak sampai membasmi larva atau jentiknya. Karena itu, harus juga digiatkan gerakan 3 M Plus tadi. (Ghazali Dasuqi/fat)











































