Kartini Muda Inspiratif Fashion di Banyuwangi

Putri Akmal - detikNews
Kamis, 21 Apr 2016 17:00 WIB
Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Anita Yuni Kholilah (28), disebut salah satu sosok perempuan inspiratif. Wanita muda berbakat asal Banyuwangi itu menjadi desainer berkelas di bidang fashion muslimah. Meski ia lulusan S1 jurusan pendidikan FK Universitas Brawijaya, Anita merasa jika dia lebih beruntung disebut sebagai pejuang fashion muslimah yang menyelamatkan alam melalui hijabox.

Di rumah miliknya di Desa Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, ia berani berevolusi dengan alam untuk menggali dan memaksimalkan potensi diri di bidang fashion. Ada dua jenis produk fashion yang ia tekuni. Aksesoris muslim dan busana batik muslimah syar'i.

Usai sukses ikut serta dalam pagelaran fashion show di Moslema In Style International Fashion Forward (MISIFF) di Kuala Lumpur, Malaysia tahun lalu, kini Anita makin semangat eksplorasi fashion batik muslim dengan pewarnaan alam. Selama beberapa bulan kedepan, Anita menjadi sangat produktif eksplore warna dan desain lantaran ia diberi kesempatan oleh negara jiran untuk ikut meramaikan Muslim Lifestyle Expo di Manchester City 29-30 Oktober 2016.

Beberapa bahan dasar pewarnaan kain batik ia gunakan. Ada kulit kayu mahoni, kulit manggis, daun mangga, jalawe dan secang ia eksperimen menjadi satu. Kain-kain katun ia coba celupkan bergantian untuk melihat hasil spectrum warna unik. Ciri khas Anita dalam fashionnya selalu mengambil sisi feminim dengan warna pastel yang soft. Elegannya perempuan tetap ia tonjolkan dengan balutan desain genit.

"Sukses MISSIF di Malaysia tahun lalu itu para panitianya mengundang hijabox lagi ke Manchester. Saya siapkan kreasi batik Banyuwangi lagi untuk tampil disana," kata Anita saat ditemui di ruang produksi Hijabox di Glenmore, Kamis (21/4/2016).

Istri dari dr Ananta Nauval Habibi (32) ini selalu ringan berbagi ilmu. Ia tak segan berbagi dengan para teman perempuan di lingkunganya dengan membuka lapangan kerja kreatif. Di sisi ruang utama di lantai 2 rumahnya, 7 pegawai perempuan juga tak kalah sibuk beradu keterampilan tangan membuat aksesoris hijabox.

Semua hijabox karyanya di produksi secara manual. Tanpa bantuan listrik, mesin dan tidak memakai perekat buatan. Semua produk aksesorisnya dibuat detail dengan lekukan dan manik-manik berwarna pastel. Kerja keras yang dilakoni dengan bekal Rp 500 ribu saat awal merintis sekitar 2010-an, kini berbuah manis. Dalam sebulan hijabox mampu memproduksi 800-1000 aksesoris dengan omset mencapai Rp 60-80 juta per bulan.

Akses penjualan online tanpa batas yang ia tekuni juga disambut pembeli. Pelanggan setia hijabox juga berhasil menembus pasar dalam dan luar negeri. Seperti, Jakarta, Bandung, Makasar, Arab, Malaysia, Thailand dan India.

"Menyebar semangat muslimah syar'i yang optimis dan sayang lingkungan lewat hijabox. Bukan sekedar fashion apa yang dibutuhkan sekarang tapi sinergi dengan alam. Ini trend fashion dunia saat ini," imbuh lulusan Aesthetic International Academy Kuala Lumpur, Malaysia tersebut.

Di peringatan perjuangan kartini, sambung Anita, ia tak segan memberikan semangat pada kartini-kartini muda masa kini untuk terus berekspresi, berkreasi positif, tidak takut berkompetisi dan tidak melupakan kodratnya sebagai wanita. Ia berharap wanita bisa memaksimalkan potensi dan mengisi diri sendiri dengan ilmu.

"Perempuan harus seperti Kartini yang tanpa meninggalkan keluarganya bisa bermimpi besar dan mewujudkan cita-cita. Kerjakan semua yang diyakini dengan gairah dan pakailah kaca mata kuda. Kompetitor dalam bisnis? silahkan. But looking foward," pungkasnya. (fat/fat)