"Anak dengan salah satu orang tua memiliki riwayat alergi berisiko mengalami alergi sebesar 20%-30%," kata Ahli Alergi Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga RSU Dr Soetomo, Dr dr Anang Endaryanto SpAK, Kamis (31/3/2016).
Jika saudara memiliki riwayat alergi, jelas dia, anak berisiko mengalami alergi sebesar 25%-30%. Bahkan anak dengan orang tua yang tidak memiliki riwayat alergi pun berisiko mengalami alergi sebesar 5%-15%.
"Alergi timbul karena sistem imun memiliki sensitivitas yang berlebihan terhadap protein asing, padahal bagi anak-anak lainnya malah tidak berbahaya," tambahnya.
Dia menjelaskan sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, penanganan sedini mungkin perlu ditempuh. Sehingga anak terhindar dari dampak jangka panjang alergi dan tumbuh kembangnya tidak terhambat. Penanganannya yakni dengan mengenal gejala alergi, alergen pemicu dan memantau asupan nutrisi.
Sementara Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr Soetomo, Dr dr Ahmad Suryawan SpAK mengaku bila seorang anak terkena alergi dibutuhkan intervensi nutrisi yang tepat bagi anak-anak dengan risiko alergi.
"Sehingga anak terhindar dari alergen pemicu, tapi tetap memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembang yang optimal," tegas dr Suryawan.
Dia menambahkan seorang anak yang memiliki alergi bisa mempengaruhi status kesehatan sehingga ke depannya bisa mempengaruhi kualitas hidupnya seperti pada perilaku sosial, performa sekolah dan prestasi akademiknya.
"Yang terpenting, intervensi nutrisi yang dapat dilakukan terhadap anak-anak dengan risiko tidak toleran terhadap protein susu sapi salah satunya adalah pemberian nutrisi dengan protein terhidrolisasi parsial," tambahnya.
Head of Corporate Affairs Sarihusada, Arif Mujahidin memperkenalkan Kartu Deteksi Dini UKK Alergi Imunologi yang diterbitkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
"Kartu ini memuat nilai risiko keluarga pada ayah, ibu, dan saudara kandung ini dapat membantu orang tua untuk menghitung risiko alergi pada anak, sehingga penanganan alergi dapat dilakukan sedini mungkin dan sekomperehensif mungkin," tandasnya.
(fat/fat)











































