"Kami ingin ada ketegasan dari pemerintah, untuk menolak sapi impor dari India. Yang kami tahu sapi itu banyak membawa penyakit, seperti kuku dan mulut," ungkap Hermanto Pembina Kelompok peternak sapi potong Malang Raya, Kamis (17/3/2015).
Peternak se-Jawa Timur berkumpul mengikuti sarasehan kelompok peternak sapi potong di Hotel El Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Di sela sarasehan, peternak menggelar deklarasi menolak sapi impor asal India. "Kami juga meminta respon segera dari Pemprov Jatim maupun pemerintah pusat," ujar Hermanto.
Dia mengungkapkan, ada sekitar 320 kelompok peternak sapi potong di bawah binaannya. Mereka kini, tengah menjalankan pengembangbiakkan sapi.
Diakui dia, butuh waktu sekitar tiga tahun untuk menuai hasil ternak sapi. Hal inilah yang dipandang corporate lambat, padahal kebutuhan harus segera dicukupi.
"Makanya seringkali, karena stok tidak memenuhi kebutuhan didatangkan sapi dari luar," jelasnya.
Bakir (55), peternak sapi asal Lawang, Kabupaten Malang, mengaku, hadirnya sapi impor jelas berdampak kepada harga daging. Jika harga daging jatuh, maka peternak jelas akan merugi.
"Kami membeli bibit sapi sudah mahal, belum pakannya. Kalau waktunya menjual murah, kami jelas rugi," ucapnya terpisah.
Dia berharap, pemerintah tidak hanya tegas menghentikan impor sapi, tetapi juga memberikan bantuan bagi peternak dalam mendapatkan bibit sapi. "Jika ada subsidi, pembelian bibit sapi bisa ringan," harapnya.
Sementara Kadis Peternakan Kabupaten Malang Sudjono menuturkan, khusus sapi di wilayah kerjanya surplus. Tetapi stok yang kini ada, habis untuk memenuhi kebutuhan di daerah lain.
"Tetapi dengan pola pengembangbiakkan yang bagus, seperti inseminasi buatan. Akan dapat memberikan solusi tepat, asal impor sapi dihentikan. Apalagi dari India," tegasnya. (iwd/iwd)











































