Bapak 2 anak itu konon nekat bunuh diri karena depresi lantaran penyakit asam urat yang dideritanya tak kunjung sembuh. "Saya pergi bantu tetangga. Waktu pulang mau antar kue, saya lihat suami saya sudah menggantung di dalam rumah," kata istri korban, Niwati.
Namun, polisi meragukan kematian korban akibat gantung diri. Disebut-sebut, ada beberapa indikasi yang memungkinkan korban meninggal bukan karena bunuh diri. Diantaranya, kposisi tempat tergantungnya korban cukup pendek. Sehingga kaki korban dimungkinkan menyentuh lantai rumah. Selain itu, lidah korban konon juga tidak menjulur seperti lazimnya orang tewas gantung diri.
"Makanya walaupun tadi keluarga korban tidak mengizinkan, kami tetap membawa jenazah korban ke rumah sakit. Ini demi kepentingan penyelidikan, untuk mengetahui penyebab kematian korban," kata Kapolsek Situbondo, Iptu Bambang Irianto kepada detikcom.
Keterangan yang dihimpun, Bunadi ditemukan menggelantung di dalam rumahnya oleh Niwati, istrinya sendiri. Wanita ini terkejut melihat suaminya menggantung dalam kondisi tidak bernyawa. Bagian lehernya terjerat tali rafia, yang bagian ujungnya terikat pada kayu atap rumah. Karena panik, Niwati langsung berusaha menurunkan jasad suaminya. Dia dibantu adiknya, Masyani.
"Jadi waktu kami datang ke TKP, posisi jenazah korban sudah diturunkan," sambung Bambang Irianto.
Versi keluarga, Bunadi diduga nekat gantung diri lantaran penyakit asam urang dan liver yang dideritanya tidak kunjung sembuh. Gara-gara penyakitnya tersebut, sudah setahun terakhir ini korban tidak bisa lagi bekerja. Profesi korban sendiri adalah penambang pasir di Kali Sampeyan Desa Kotakan Kecamatan Situbondo.
"Setiap bekerja cari pasir, kakinya langsung bengkak. Makanya almarhum tidak kerja lagi. Tapi dia tetap ingin bekerja. Dua hari lalu dia sempat minta dibelikan sepeda, katanya mau jual tahu saja. Tidak tahunya sekarang sudah meninggal," tutur Rus, keponakan korban. (fat/fat)










































