72 Persen Kasus Gigi Karena Berlubang

72 Persen Kasus Gigi Karena Berlubang

Fatichatun Nadhiroh - detikNews
Kamis, 25 Feb 2016 14:56 WIB
72 Persen Kasus Gigi Karena Berlubang
Foto: Imam Wahyudiyanta
Surabaya - Sebanyak 72 persen dari semua keluhan gigi yang dimulai anak-anak dan dewasa, disebabkan karena gigi berlubang. Di Indonesia keluhan gigi berlubang bisa disebabkan gigi itu sendiri, makanan, waktu dan bakteri yang ada pada mulut dan gigi.

Jika dibiarkan, bisa menyebabkan infeksi ke otak, jantung hingga penyakit kronis. Padahal kebanyakan, masyarakat di Indonesia tidak akan datang ke dokter gigi bila giginya tidak sakit.

"Alangkah baiknya melakukan pencegahan sebelum terjadinya gigi berlubang," kata ujar drg Ida Bagus di sela-sela kampanye Ayo Ganti! Untuk Gigi dan Mulut yang Lebih Sehat, Kamis (25/2/2016).

Untuk itu, jelas dia, penting sekali untuk mengedukasi para orangtua agar care terhadap kesehatan gigi anak-anaknya. Setelah anak mulai tumbuh gigi, saat itulah perawatan gigi harus dilakukan. Dengan membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan yang menempel. Dan menggunakan sikat gigi yang lembut untuk membersihkannya.

"Perawatan menggosok gigi harus terus dilakukan. Terutama menjelang tidur malam. Walau pagi tidak sempat gosok gigi tak apa, yang penting saat mau tidur harus gosok gigi, itu akan aman," jelasnya.

Dia menyarakan agar menggunakan sikat gigi tidak asal-asalan. Penggunaan sikat gigi harus yang berbentuk bulat dan kecil di ujungnya sehingga bisa menjangkau hingga ke gigi bagian belakang. Karena, pusat penyakit gigi itu ada di bagian belakang karena jarang terjangkau sikat gigi.

"Untuk pemilihan sikat gigi dengan bulu tertentu, tidak terlalu penting. Karena masing-masing orang berbeda kesenangannya," tegasnya.

Jika tes sederhana untuk mengetahui gigi sudah bersih atau tidak, dengan menggunakan gentien violet. Ini adalah cairan warna ungu yang bisa dibeli di apotek. Ambil di kapas, terus gosokkan pada gigi.

"Kalau gigi kita bersih cairan itu akan berwarna putih, namun kalau kotor akan tetap berwarna ungu," tambahnya.

Head of Corporate and Markering Communication OT Group, Yuna Kristina mengungkapkan edukasi ini sengaja dilakukan di pinggiran kota. Sebab pinggiran kota minim edukasi kesehatan.

"Edukasi ini kita berikan pengurus PKK, guru Paud, serta kader-kader Posyandu. Dan merekalah yang akan meneruskan untuk melakukan edukasi dan penyuluhan bagi masyarakat di sekitarnya," jelasnya. (fat/fat)
Berita Terkait