Padahal, saat ini pascabentrok tambang emas dan pengerusakan infrastruktur tambang emas PT Bumi Suksesindo November lalu, kondisi warga setempat berangsur kembali kondusif. Aktivitas warga yang mayoritas bekerja sebagai petani dan nelayan kembali pulih seperti sedia kala.
Hasil pemantauan paguyuban yang digawangi puluhan tokoh lintas agama setempat menjadi dasar pernyataan tersebut. Untuk itu, demi terciptanya dan memelihara rasa damai warga, dia meminta Kepolisian Resort Banyuwangi, tidak segan menangkap dan memberi sanksi tegas para provokator.
"Warga sekitar tambang sudah kondusif, tapi masih ada satu dua orang yang gak seneng dengan adanya PT BSI," ucap Kiai Marwan, salah satu tokoh paguyuban lintas agama Kecamatan Pesanggaran, kepada detikcom, Selasa (23/2/2016).
Dia tidak melarang masyarakat untuk melakukan demonstrasi. Tapi, jika aspirasi bisa disampaikan secara damai, demo hingga perbuatan anarkis dinilai tidak perlu dilakukan.
"Kita juga mengimbau masyarakat untuk melihat permasalahan tambang dengan arif dan bijaksana. Artinya, tetap saling menghargai dan menjaga keamanan," ungkapnya.
Pihaknya tidak ingin warga sipil menjadi korban provokator yang berimbas terjadi tindakan anarkhis yang merugikan rakyat kecil.
Dengan sederetan sejarah aksi anarkis tolak tambang November 2015 lalu, paguyuban lintas agama Kecamatan Pesanggaran, meminta warga untuk bisa berfikir lebih dewasa. Tetap 'wong cilik' yang menjadi korban dan aktor utama hingga saat ini tetap melenggang seperti tak bersalah.
"Sampaikan keluhan pada paguyuban, kita siap menjadi jembatan antara warga dan PT BSI. Dan saat ini memang sudah saatnya warga berfikir bagaimana keberadaan tambang emas bisa memiliki manfaat pada warga, bukan kembali masuk ke lubang provokasi pihak tak bertanggung jawab," pungkasnya. (bdh/bdh)











































