Warga Desa Tumpakoyot Kec Bakung Kabupaten Blitar itu, ditemukan petugas tergantung di teralis kamar mandi sel Mapolresta Blitar, dengan melilitkan kaos yang dipakainya.
Jenazah korban langsung dievakuasi di RSUD Mardi Waluyo dan menunggu persetujuan pihak keluarga untuk diautopsi terlebih dulu atau langsung dibawa pulang untuk dimakamkan.
Ditemui detikcom di Instalasi Pemulasaraan Jenasah RSUD Mardi Waluyo, Sumiyanto, Kasie Keamanan Desa Tumpakoyot menyatakan Nuryadin ini dikenal sebagai warga yang baik.
"Beliau ini takmir masjid yang menjadi panutan warga. Pergaulannya selama ini juga sangat bagus. Jadi kami tidak percaya juga tadi pagi mendapat kabar seperti ini," kata Sumiyanto.
Nuryadin meninggalkan seorang istri dan 2 anak lelaki. Masing-masing kelas 5 SD dan 1 SMP. Sementara ayah Nuryadin yang tinggal serumah dengannya juga menggantungkan hidup pada Nuryadin yang selama ini menjadi buruh tani.
Sementara, Supriyono Kades Tumpakoyot yang sempat membezuk Nuryadin di sel Mapolresta menceritakan jika korban sebenarnya tidak memiliki dan mengedarkan upal tersebut. Dia juga bingung saat polisi menemukan uang palsu di rumahnya.
"Katanya dia tidak memiliki dan mengedarkan upal tersebut. Dia juga bingung saat polisi menemukan uang palsu di rumahnya," jelasnya.
Sementara pihak kepolisian belum ada yang bisa dimintai keterangan. Dan jenazah Nuryadin masih menunggu keputusan dari pihak keluarga.
Nuryadin merupakan satu diantara tersangka peredaran upal yang diamankan Mapolresta Blitar 11 Februari lalu. Dari rumahnya, polisi menemukan 2 lembar uang ratusan palsu yang menurut keterangannya didapat dari tersangka Edy, warga Ngawi. (fat/fat)











































