RS Emma Didemo Warga Diduga Pilih Kasih Pengobatan Pasien

RS Emma Didemo Warga Diduga Pilih Kasih Pengobatan Pasien

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 22 Feb 2016 13:18 WIB
RS Emma Didemo Warga Diduga Pilih Kasih Pengobatan Pasien
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Puluhan warga Perumahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto berunjuk rasa di depan RS Emma, Senin (22/2/2016). Warga geram pelayanan rumah sakit yang diduga menelantarkan 2 pasien hingga meninggal dunia.

Puluhan warga Perumahan Wates memadati pintu masuk dan IGD rumah sakit swasta yang terletak di Jalan Raya Ijen. Tak selazimnya aksi unjuk rasa yang diwarnai poster berisi tuntutan, warga justru berorasi sembari membentangkan kain penutup keranda mayat tepat di depan pintu masuk RS Emma. Massa merupakan warga sekitar rumah sakit tersebut.

"Pelayanan rumah sakit Emma terhadap warga sekitar kurang maksimal. Sudah 2 kali kejadian warga meninggal dunia karena tidak segera ditangani rumah sakit," kata perwakilan warga, Rusman Arif di lokasi.

Dugaan penelantaran oleh RS Emma, menurut Arif, menimpa Malikan (60), warga Jalan Raung, Perumahan Wates. Korban mendadak pingsan di kamar mandi rumahnya karena sakit diabetes, Minggu (21/2) sore.

Lantaran tak mempunyai mobil untuk membawa korban ke IGD, warga meminta pihak RS Emma untuk mengirim ambulance dan tenaga medis. Sayangnya permintaan warga itu ditolak oleh rumah sakit swasta itu. Padahal jarak antara rumah sakit dengan rumah korban berdekatan.

"Mereka menolak mengirim dokter ke rumah korban, katanya tidak ada dokter jaga pengganti. Kemudian warga meminta ambulance, namun tidak dikasih. Padahal ambulance ada, namun harus izin manajemen. Karena kelamaan warga membawa dengan pikup. Dibawa ke sini (RS Emma) korban meninggal," jelasnya.

Kasus dugaan penelataran oleh RS Emma, lanjut Arif, tak hanya kali ini saja. Sekitar 2 bulan yang lalu, Suryadi (50), warga Jalan Raung, Perumahan Wates juga meninggal akibatnya terlambat ditangani rumah sakit tersebut.

Selain itu, warga juga geram dengan pelayanan RS Emma yang terkesan pilih kasih terhadap warga sekitar yang akan berobat menggunakan BPJS Kesehatan. Kerap kali pihak rumah sakit menolak merawat dengan alasan ruang rawat inap sudah penuh. Giliran pasien BPJS dari wilayah lain dengan mudah mendapatkan pelayanan di RS Emma.

"Pelayanan rumah sakit terhadap warga sekitar kurang maksimal. Padahal warga tidak meminta gratis, hanya minta penjemputan dan pelayanan yang maksimal," ungkapnya.

Aksi unjuk rasa kali ini membuat aktivitas pelayanan di RS Emma sempat terganggu. Amarah warga sedikit mereda setelah pihak manajemen rumah sakit bersedia menemui perwakilan massa untuk mediasi.

"Warga meminta perjanjian tertulis dengan rumah sakit, akan kami konsep secepatnya untuk kemudian disepakati di pertemuan selanjutnya," imbuh Arif.

Sementara Direktur RS Emma, Dr Magdalena menolak berkomentar saat dikonfirmasi wartawan terkait dugaan penelantaran pasien tersebut. Usai menemui warga, dia berpaling dari sejumlah wartawan yang sudah menunggu dan mengunci rapat-rapat ruangannya. (fat/fat)
Berita Terkait