Anas-Yusuf Dobrak Mitos dengan Mengubah Sudut Pandang dan Perang Opini

Anas-Yusuf Dobrak Mitos dengan Mengubah Sudut Pandang dan Perang Opini

Putri Akmal - detikNews
Rabu, 17 Feb 2016 11:35 WIB
Anas-Yusuf Dobrak Mitos dengan Mengubah Sudut Pandang dan Perang Opini
Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Terpilih kembali untuk memimpin Banyuwangi periode kedua 2016-2021 bagi Abdullah Azwar Anas-Yusuf Widiatmoko bukanlah hal mudah. Pasangan pemimpin daerah yang diusung PDIP ini berani mendobrak mitos yang bertumbuh dan mengakar di Bumi Blambangan.

Konon sejak pasca reformasi dan hidupnya pemilihan langsung hingga masa pemerintahan sebelum Anas-Yusuf tak pernah ada satu pun yang bisa memimpin Banyuwangi dengan dua kali masa jabatan berturut-turut.

Mitos masa kepemimpinan Bupati yang ditafsirkan tak bisa menjabat dua kali, menurut Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas dianggapnya sebagai tantangan tersendiri. Pasalnya mendobrak mitos seperti layaknya memandang sebuah pergeseran sudut pandang baru dalam gaya kepemimpinan dan perang opini.

"Ini tak ubahnya menggeser sudut pandang dan perang opini. Barang siapa yang bisa memenangkan opini maka sebenarnya dia sudah memenangkan separuh dari peperangan. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangan," tegas Anas pada detikcom, Rabu (17/2/2016).

Jika diruntut dari masa ke masa, dari kepemimpinan Banyuwangi periode 1942–1947 dijabat R.Oesman Soemodinoto dan Soegito Noto Soegito pada 1955-1965. Kepemimpinan selanjutnya dipegang Djoko Supaat Slamet pada periode 1966–1978 dan Susilo Suhartono, SHS pada 1978–1983. Kepemimpinan satu periode juga masih bertahan hingga masa Djoko Wasito 1984-1988.

Harwin Wasisto 1988–1991, Turyono Purnomo Sidik 1991–2000. Ir. H. Samsul Hadi memimpin Banyuwangi pada 2000–2005 tapi gagal saat pendaftaran bursa calon bupati pada masanya. Lalu kepemimpinan beralih pada bupati perempuan pertama Ratna Ani Lestari yang memimpin 2005 hingga 2010. Barulah sejarah menulis berbeda di periode kepemimpinan Abdullah Azwar Anas yang menjabat 2010-2015 dan dilanjutkan 2016-2021.

Anas yang dibesarkan di dunia pesantren kini tak lagi gerah jika digempur kalimat pencitraan. Anas menilai dibalik kata pencitraan tersebut ada gerbang pertumbuhan citra daerah yang ikut melesat.

"Walaupun dihajar kalimat cuma pencitraan saja, kami tidak ambil perduli. Karena jika ada pencitraan maka citra daerah juga ikut bertumbuh, citra daerah meningkat maka perkembangan pemerintahan dan ekonomi ikut bertumbuh. Ini hanya tentang duduk bersama melawan ego dan mementingkan kepentingan bersama," kata dia.

Dia mencontohkan pendapatan per kapita Banyuwangi yang meningkat 62 persen dari Rp 20,8 juta (2010) per orang per tahun menjadi Rp33,6 juta (2014) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) adalah salah satu indikator geliat ekonomi warga. "Kami kerja saja. Yang penting tujuannya baik," pungkas Anas. (fat/fat)
Berita Terkait