Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Uus

Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Uus

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Selasa, 09 Feb 2016 22:51 WIB
Berikut Kronologi Kasus Pembunuhan Uus
Foto: Imam Wahyudiyanta
Surabaya - Masud Suryadi telah ditangkap karena terbukti telah membunuh Uswatun Chasanah. Motif Masud membunuh perempuan yang akrab disapa Uus ini adalah cemburu. Berikut awal mula dan kronologi kasus pembunuhan yang diungkap Polsek Wonokromo tersebut.

"Korban dan tersangka kenal dua minggu sebelum kejadian. Yang mengenalkan adalah teman tersangka bernama Fiki," ujar Kapolsek Wonokromo Kompol Arief Kristanto kepada wartawan, Selasa (9/2/2016).

Setelah itu, hubungan mereka bertambah akrab melalui sambungan telepon dan media sosial. Mereka belum bisa bertemu langsung karena Masud ada di Surabaya sementara Uus ada di Probolinggo. Masud kemudian meminta Uus agar bersedia datang ke Surabaya. Permintaan itu disanggupi Uus.

Pada Senin (1/2/2016) pukul 10.00 WIB, Uus meninggalkan rumah tanpa pamit keluarganya. Uus menuju ke rumah saudaranya dan menginap di sana. Pada Rabu (3/2/2016), perempuan 17 tahun itu dijemput Masud di halte bus di Jalan Raya Kandang, Probolinggo.

Setelahnya mereka langsung menuju Surabaya naik bus. Mereka tiba di Terminal Purabaya (Bungurasih) pukul 22.00 WIB. Dari Bungurasih mereka naik angkot menuju Terminal Joyoboyo. Dan dari Joyoboyo mereka pulang ke rumah Jafar yang ditinggali Masud di Jalan Brawijaya gang Kedurus I.

"Mereka dijemput kawan tersangka, Halim. Mereka berboncengan motor bertiga," kata Arief.

Setiba di lokasi, mereka langsung masuk rumah. Di dalam kamar, mereka melakukan hubungan suami istri. Pagi harinya, Kamis (4/2/2016), Masud bekerja seperti biasa di usaha air isi uang milik Jafar di Rusunawa Gunungsari. Uus ditinggal sendiri di rumah.

Pukul 21.00 WIB, Masud pulang. Saat itulah Uus meminta agar dipulangkan. Namun Masud enggan dengan alasan tidak punya uang. Jika mau, Masud akan mengantarkan Uus pulang esok harinya dengan meminjam uang majikannya. Namun Uus ngotot agar dipulangkan malam itu juga dengan alasan ibunya sedang sakit..

Mereka pun cekcok. Masih dalam emosi, Masud keluar untuk membeli makan. Usai makan, Masud balik pulang. Tetapi sebelum masuk rumah, pria asal Bondowoso itu mendengar Uus menerima telepon. Dalam obrolan di telepon itu, Uus tertawa-tawa begitu gembira. Masud curiga Uus ngobrol dengan lelaki lain, padahal tadi mengkhawatirkan ibunya yang sedang sakit.

Masud pun menanyakan siapa yang menjadi teman ngobrolnya di telepon. Namun Uus cuek saja dan menyuruh agar Masud tak turut campur. Saat itulah dada Masud bergejolak. Dia merasa cemburu. Dia mengambil kayu yang ada di dekat situ dan mengancam akan memukul Uus.

Uus masih cuek dan mengatakan jika Masud berani melakukannya, maka Masud akan dikeroyok warga. Karena merasa diremehkan, potongan kayu itu pun dengan keras mendarat di kepala bagian belakang Uus. Uus pun menjerit minta ampun.

Bukannya menghentikan serangannya, Masud justru menindihkan bantal ke muka Uusdan kemudian mencekiknya. Dan dalam waktu bersamaan, Masud melorotkan celana yang dikenakan Uus dan jari tangannya menjamah kemaluan Uus.

"Kejadiannya Sabtu (6/2/2016) pukul 01.00 WIB," kata Arief.

Setelah mengetahui Uus tewas, Masud menutup badan Uus dengan sarung dan menutup mukanya dengan guling. Pagi harinya pukul 06.00 WIB, Masud datang ke rumah Jafar yang tak jauh dari situ untuk mengambil kunci depot air isi ulang. Namun Jafar tak memberikan karena masih terlalu pagi.

Pada pukul 07.00 WIB, Masud kembali datang ke rumah Jafar dan kunci itu pun diberikan. Dengan kunci itu Masud membuka depot air isi ulang hanya untuk mengambil sepeda angin yang ada di dalamnya. Dan dengan sepeda itu Masud segera kabur menuju Bungurasih.

Dari Bungurasih, Masud naik bus ke rumahnya di Bondowoso. Dan dari Bondowoso, Masud meneruskan perjalanan ke Situbondo. Pada Minggu (7/2/2016) pukul 07.00 WIB, Masud ditangkap saat berada di dalam warnet di Jalan Basuki Rahmat, Situbondo.

"Saat itu tersangka sedang browsing untuk mencari tiket untuk kabur ke luar pulau," tandas Arief. (fat/iwd)
Berita Terkait