Untuk itu diperlukan kesadaran agar masyarakat suka mengkonsumsi ikan, telur dan susu. Salah satunya dengan promosi kesehatan baik melalui posyandu dan puskemas atau seminar.
Dosen senior dari Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair mengatakan upaya perbaikan gizi memerlukan dukungan berbagai pihak, sehingga masyarakat dapat pengetahuan dan awareness tentang permasalahan dan program gizi terkini.
"Agar masyarakat bisa hidup sehat berprestasi karena mengetahui pentingnya konsumsi pangan hewani, buah dan sayur serta melakukan aktivitas fisik dalam mewujudkan bangsa sehat berprestasi," kata Dr dr Sri Adiningsih MS, MCN dalam seminar bertema 'Mewujudkan Gizi Seimbang Menuju Bangsa Sehat Berprestasi' peringati Hari Gizi Nasional 2016 di kampus C Unair, Senin (8/2/2016).
Ketua Umum PERGIZI Pangan Indonesia, Prof Hardinsyah memaparkan bahwa kesadaran masyarakat akan manfaat pangan hewani, buah dan sayur bisa meningkatkan perilaku mengkonsumsi beragam makanan bergizi sejak usia dini.
Dia menyebut Riskesdas 2013 menyatakan bahwa 93,5% penduduk Indonesia berusia kurang 10 tahun berperilaku kurang mengkonsumsi sayur dan buah. Sedangkan konsumsi pangan hewani pada ikan, telur dan susu pada masyarakat di Indonesia masih di bawah rata-rata konsumsi pangan hewani masyarakat di ASEAN.
"Jawa Timur sendiri mencatat prevalensi penduduk berusia lebih 10 tahun yang berperilaku kurang konsumsi sayur dan buah mencapai 95,4%, naik dari prevalensi 2007 sebesar 90,7% dan lebih tinggi dari prevalensi nasional," tambahnya.
Sementara Kasubag Penyusunan Program Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Ir Edy Purwanto Tertiyus MMA menjelaskan selama ini gizi bisa terpenuhi jika bisa dijangkau dan persediaannya ada.
"Untuk itu kita terus mewujudkan ketahanan pangan hingga level rumah tangga," tegasnya.
Penanggung jawab gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Edi Suroso SKM, mengaku sudah banyak program yang dibuat untuk menanggulangi permasalahan gizi yang ada di Indonesia khususnya di wilayah Jawa Timur.
"Penanggulangan tersebut dapat bersifat preventif dan kuratif. Sampai saat ini program yang bersifat preventif melalui upaya promosi kesehatan terus ditingkatkan karena pada dasarnya upaya pencegahan dengan meningkatkan kewaspadaan tentang masalah gizi lebih baik daripada pengobatan," tambahnya.
Corporate Affairs Head Sarihusada Arif Mujahidin menjelaskan pihaknya akan mendukung penyebarluasan pengetahuan tentang gizi ke masyarakat luas. "Salah satunya melalui dukungan kami terhadap seminar ini dan rangkaian kegiatan yang kami selenggarakan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional 2016," tandasnya. (fat/fat)










































