Korlap Aksi, Ahmad Faisal Briliansyah mengatakan, pihaknya menuntut agar ada kejelasan anggaran KKN yang diselenggarakan Januari 2016. "Ada 1.599 mahasiswa yang ikut KKN gelombang I (4 Januari – 17 Februari). Sampai sekarang, kami tidak mendapatkan hak kita yaitu atribut KKN, seperti jaket, kaos dan topi," jelas pemuda yang akrab disapa Brili ini.
Padahal, mahasiswa telah membayar sebesar Rp 150.000 untuk kegiatan tersebut. Setiap semester, mereka membayar Rp 18.750. Biasanya, atribut KKN diberikan oleh LPM Unej kepada mahasiswa sebelum penerjunan ke lokasi KKN.
"Tapi sampai waktu KKN ini hampir habis, kami masih belum mendapatkan hak kami itu. Jelas kami menduga ada praktik korupsi di sini," ungkap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) tersebut.
Brili menerangkan, mahasiswa yang mengikuti KKN tahun ini merupakan mahasiswa angkatan 2012 – 2013. Berdasarkan estimasinya, biaya KKN yang sudah terbayarkan mencapai Rp 150 juta sampai Rp 200 juta.
Pihaknya menuntut agar LPM, Pembantu Rektor (PR) II (Bidang Keuangan dan Asset) dan Rektor, menandatangani kesepakatan transparansi anggaran. Namun, dari beberapa kolom tandatangan yang disodorkan, hanya LPM yang bisa menandatangani.
Aksi mahasiswa tersebut diawali di gedung LPM Unej. Di sana, mereka ditemui langsung oleh Kepala LPM, Drs. Anwar. Msi. Keinginan mahasiswa dengan adanya penandatanganan kesepakatan transparansi itu terpenuhi.
"Tetapi, perlu kami sampaikan, bahwa dengan anggaran Rp 150.000 yang dibayarkan mahasiswa, tidak bisa untuk pembuatan seluruh atribut. Itu hanya bisa untuk pembuatan Jaket dan Topi," kata Anwar.
Mengenai atribut yang belum selesai, Anwar beralasan bahwa hal tersebut dikarenakan kendala konveksi. Pihak konveksi dari Malang masih belum bisa memenuhi pesanan dari LPM Unej.
Sementara itu, ketika aksi beralih ke gedung Rektorat Unej, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan Satpam. Mahasiswa memaksa masuk ke dalam gedung untuk menemui pihak yang bersangkutan. Namun dihalangi oleh pihak keamanan.
Harapan mahasiswa pun kandas, disebabkan ketidakhadiran pihak terkait yang diinformasikan sedang bepergian ke luar kota.
(fat/fat)











































