Kabid Pengendalian Penyakit Dinkes Lamongan, Bambang Susilo mengungkapkan, sampai akhir Januari sudah ada 74 pasien. Dua pasien anak-anak meninggal bernama Naza Syakili Zahra, warga Kecamatan Kambangbahu dan Dewi Sekar, warga Kecamatan Karanggeneng.
Bambang menyebutkan, 2 korban meninggal ini akibat terlambat dibawa ke rumah sakit. "Karena terlambat membawa ke rumah sakit sehingga kondisinya semakin menurun hingga meninggal," kata Bambang kepada wartawan, Rabu (3/2/2016).
Bambang menuturkan, dari 27 kecamatan di Lamongan, Kecamatan Sugio adalah kecamatan yang paling banyak terserang DBD, disusul Kecamatan Karanggeneng, Mantub dan Kedungpring.
"DBD sudah menjadi siklus tahunan di Lamongan sehingga masyarakat harus mewaspadai serangan nyamuk Aedes aegypti tersebut agar tidak memakan korban lebih banyak," tuturnya.
Meski sudah ada korban meninggal, Dinkes Lamongan belum menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pasalnya, data DBD Januari 2016 tidak mengalami peningkatan dua kali lipat dari tahun 2015 lalu. Kalau pada Januari 2015 ada 86 pasien. Jika berstatus KLB maka jumlah KLB seharusnya meningkat 2 kali lipat dari tahun lalu. "Kalau 2 kali lipat baru KLB," jelasnya.
Sementara Dinkes Lamongan tidak henti-hentinya memberikan sosialisasi mencegah peningkatan penderita DBD. Salah satu caranya dengan melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan menjalankan 4 M Plus, yakni Menguras, Menutup, Mengubur, dan Memantau, serta plusnya adalah tidak menggantungkan baju, memelihara ikan, hindari gigitan nyamuk, dan menabur abate.
(fat/fat)











































