Ribuan Sumur di Mojokerto Diduga Tercemar, BLH Sebut bukan Akibat Pabrik Limbah

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 25 Jan 2016 17:53 WIB
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mojokerto memastikan penyebab tercemarnya ribuan sumur warga di Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis bukan akibat adanya pabrik pengolahan limbah B3. Pasalnya, hasil uji laboratorium sumur pantau dan sumur warga yang dilakukan secara periodik menunjukkan kualitas air masih memenuhi standar baku mutu.

Hal itu dijelaskan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup BLH Kabupaten Mojokerto Mohamad Aminudin. Menurut dia, keluhan warga Desa Lakardowo terkait ribuan sumur yang tercemar limbah B3 dari PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) hanya wujud kekhawatiran warga. Pasalnya, keluhan warga itu tak ditunjang dengan hasil uji laboratorium.

Sementara sebagai pemangku fungsi pengawasan, Aminudin mengaku telah melakukan uji laboratorium secara periodik terhadap sumur pantau di PT PRIA dan juga sumur Wislic yang selama ini menjadi sumber air bersih bagi warga Desa Lakardowo.

"Hasilnya memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu air bersih yang diatur dalam Permenkes RI No 416/MENKES/PER/IX/90. Tidak ada masalah, itu hanya kekhawatiran warga saja," kata Aminudin kepada wartawan, Senin (25/1/2016).

Aminudin menjelaskan, terdapat tiga sumur pantau di sekitar PT PRIA yang diuji setiap 6 bulan sekali sejak pabrik pengolahan limbah B3 itu beroperasi sekitar 2 tahun lalu. Menurut dia, sumur pantau yang hanya berjarak sekitar lima meter dari pabrik pengolahan limbah B3 itu letaknya ditentukan berdasarkan hasil analisa dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

"Sumur pantau itu menjadi indikator ada atau tidaknya pencemaran dari PT PRIA ke lingkungan sekitarnya. Jika hasil uji laboratorium di sumur pantau masih memenuhi standar baku mutu, tidak mungkin sumur warga yang letaknya lebih jauh tercemar limbah B3," jelasnya.

Sesuai dengan Permenkes RI No 416/MENKES/PER/IX/90, lanjut Aminudin, terdapat 18 parameter yang menjadi acuan apakah air memenuhi standar baku mutu atau tidak. Antara lain air tidak berbau, tidak berasa, derajat keasaman (Ph) 6,5-9,0, total padatan terlarut (TDS) maksimal 1.500 mg/L, Kekeruhan maksimal 25 skala NTU, warna 50 TCU, Kesadahan sebagai CaCO3 maksimal 600 mg/L, zat organik (KmnO4) maksimal 10 mg/L, besi (Fe) maksimal 1,0 mg/L, Mangan (Mn) 0,5 mg/L, Seng (Zn) 15 mg/L, Fluorida (F) 0,5 mg/L, Klorida (Cl) 600 mg/L, Nitrat 10 mg/L, Sulfat 600 mg/L, dan Nitrit 1,0 mg/L.

Sementara hasil uji laboratorium terakhir oleh BLH Kabupaten Mojokerto 16 November 2015, ke 18 parameter yang diuji masih di bawah ambang batas tersebut. Antara lain, air tidak berbau, tidak berasa, PH 7,6, TDS 910 mg/L, Kekeruhan 0,4 skala NTU, warna 1,0 TCU, Kesadahan 128 mg/L, dan zat organik 3,7 mg/L.

"Kandungan BesiĀ  0,017 mg/L, Mangan 0,026 mg/L, Seng 0,018 mg/L, Fluorida 0,43 mg/L, Klorida 7,92 mg/L, Nitrat 0,42 mg/L, Sulfat 285 mg/L, dan Nitrit 0,06 mg/L. Jadi semua masih memenuhi baku mutu air bersih yang dipersyaratkan," tandasnya.

Sementara Direktur PT PRIA, Luluk juga membantah jika selama ini terjadi kebocoran limbah B3 ke lingkungan Desa Lakardowo. Dia mengklaim bahwa teknis pengolahan dan pemanfaatan B3 sudah memenuhi standar keamanan.

Limbah B3 padat batu bara selama ini disimpan di tempat tertutup sehingga aman dari terpaan angin. Limbah serbuk itu dimanfaatkan menjadi batako. Sementara limbah B3 dari industri kertas diolah kembali menjadi low grade paper.

"Kalau limbah cair kami ada tempat pengolahan khusus yang itu sangat aman, tidak mungkin merembes ke tanah. Sedangkan limbah medis kami musnahkan dengan incinerator. Residunya kami kirim ke pihak ke 3. Jadi selama ini tidak ada kebocoran limbah B3 yang mencemari sumur warga," tegasnya. (iwd/iwd)