"Waktu itu (tahun 2014) anggotanya berjumlah 15 orang. Setelah dibubarkan tidak ada kegiatan lagi. Saat ini keberadaan mereka tidak diketahui keberadaannya," kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol Linmas) Kabupaten Mojokerto, Nanang Soebagyo kepada wartawan, Rabu (13/1/2016).
Informasi yang dihimpun detikcom, sejak nama Gafatar menjadi sorotan masyarakat lantaran banyak orang yang menghilang, sejumlah pengurus Gafatar Mojokerto hijrah dari tempat tinggal mereka. Salah satunya adalah Narko Widodo yang merupakan Ketua DPK Gafatar Mojokerto. Warga Desa Kesiman Tengah, Kecamatan Pacet itu diketahui pindah ke Kalimantan sejak sebulan yang lalu.
Kendati demikian, lanjut Nanang, keberadaan Gafatar di Kabupaten Mojokerto dinyatakan ilegal. Tak ada izin yang diberikan kepada aliran yang sudah dicap sesat oleh MUI itu dari Pemkab Mojokerto. Terlebih lagi, berdirinya Gafatar sebagai ormas juga tak direstui oleh Kemendagri sebab diduga berafiliasi dengan kelompok Al Qiyadah Al Islamiyah pimpinan nabi palsu Ahmad Musaddeq.
"Pada awal datang ke sini menyampaikan itu (izin), namun setelah melihat kami tidak memberikan izin," ujarnya.
Pembubaran ormas Gafatar di Kabupaten Mojokerto pada September 2014 berawal dari aksi protes dari Fron Pembela Islam (FPI). Ormas Islam garis keras itu mengklaim Gafatar sebagai aliran sesat sebab mengimani Ahmad Musaddeq sebagai nabi akhir zaman.
Pasca pembubaran itu, memang tak lagi terdengar adanya aktivitas dari Gafatar. Kabar keberadaan anggota Gafatar mencuat pasca adanya 2 keluarga asal Desa/Kecamatan Puri yang pindah ke Pontianak, Kalimantan Barat. Keluarga Mujiutomo (53) dan Supardi (48) itu diduga bergabung dengan Gafatar.
Yang mengejutkan, menurut Nanang, Mujiutomo merupakan anggota baru Gafatar. Meski sudah dibubarkan, diduga penganut aliran nabi palsu ini merekrut anggota baru di Kabupaten Mojokerto selama setahun terakhir.
"Mujiutomo masuk Gafatar kemungkinan masih baru, karena saat 2014 nama dia tidak ada dalam daftar," sebutnya.
Pantauan detikcom, markas DPK Gafatar di Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto sudah tak lagi ditempati. Rumah di tepi By Pass Mojokerto itu saat ini dikontrak oleh orang lain. (fat/fat)











































