Para pemuda di Dusun Mejero, Desa Sendang Agung, Kecamatan Paciran, ini mulai menjalankan bisnisnya. Hasilnya sangat menguntungkan.
Salah seorang pemuda desa asal Dusun Mejero yang membuka usaha budidaya jamur tiram tersebut adalah Heny Istianto. Heny menuturkan, untuk membudidayakan jamur tiram hanya butuh biaya sekitar Rp 3.000 per media tanam, sementara cincinnya beli sendiri seharga Rp 150.
Dana sebesar Rp 3.000 dipergunakan untuk membuat bag log yang bisa menghasilkan kurang lebih 1 kg jamur tiram putih yang bisa dipanen setiap 3 hari sekali.
"Bulan-bulan awal musim hujan ini adalah musim panennya," kata Heny saat ditemui detikcom di lokasi budidaya jamur, Kamis (24/12/2015).
Heny mengungkapkan, di pasaran harga jamur mentah yang belum diolah bisa dihargai hingga Rp 20.000/kg. Sementara, mereka menjualnya dalam bentuk segar dan melayani permintaan antara 1 ons hingga 1 kg.
Dengan harga jamur tiram putih tersebut, maka satu kelompok ini bisa mengantongi hingga Rp 3-4 juta dalam sebulan. Sebab dalam sehari mereka bisa memanen sebanyak 8 kg.
"Kalau omset kita hitung ada 8 kg sehari, per kg Rp 20.000, jadi ada Rp 160.000 untuk sehari," papar Heny.
Untuk saat ini, sambung Heny, peminat jamur tiram cukup melimpah. Apalagi, dengan menjamurnya waralaba-waralaba yang mengolah jamur menjadi berbagai menu khas. Untuk pemasaran, aku Heny, tidak ada kendala hanya masalah pembudidayaannya saja yang mulai berkurang.
Satu kelompok pemuda desa pembudidaya jamur ini tak hanya bergerak dalam pembudidayaan jamur tiram saja. Heny mengungkapkan, mereka juga mulai membuat bag log untuk jamur yang mereka jual kepada pihak-pihak yang membutuhkan atau akan membudidayakan jamur tiram.
Dalam sehari, aku Heny, mereka bisa menghasilkan 1.000 bag log dimana 1 bag log mereka jual seharga Rp 3.000.
"Hanya butuh ketelatenan selama perawatan dan kebersihan lokasi jamur," pungkasnya. (fat/fat)











































