Setiap tahun, peserta beregu dan perorangan dari seantero Banyuwangi, mengikuti ajang yang memperingati perang habis-habisan masyarakat Banyuwangi melawan penjajah Belanda, tahun 1771 lalu.
Peserta menyusuri sepanjang jalur perang Puputan. Bayu, dengan menempuh jarak 9 kilometer yang terdiri dari 2 kilometer jalan aspal dan 7 kilometer jalan setapak ditengah hutan. Napak tilas dimulai dari kantor Kecamatan Songgon hingga kawasan wana wisata Rowo Bayu, di Desa Bayu, Songon.
"Jarang ada kegiatan seperti ini. Hanya setahun sekali ada. Ini kesempatan kita mengingat sejarah nenek moyang kita saat perang bayu," ujar Hendra Febri, salah satu peserta Napak Tilas, kepada detikcom.
Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi, Slamet Karyono mengapresiasi peran serta seluruh peserta yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari dinas/instansi, pelajar, mahasiswa dan umum.
"Kita maknai kegiatan ini sebagai wujud meningkatkan patriotisme dan semangat pahlawan melawan penjajah," ujarnya.
Ada yang berbeda dalam acara napak tilas perang Puputan Bayu. Bersamaan dengan acara tersebut, waga Desa Bayu, Kecamatan Songgon menggelar kirab pusaka perang dan kirab tumpeng hasil bumi. Kirab yang menempuh 3 kilometer ini, juga di finish di petilasan Prabu Tawangalun, yang berada di wana wisata Rowo Bayu.
"Pusaka yang kita kirab berjumlah ratusan. Mulai dari keris, tombak. Ini semua warisan leluhur yang digunakan saat perang bayu. Kita bersihkan dan kita masukkan lagi ke kotak senjata." ujar Sugito, Kepala Desa Bayu, Kecamatan Songgon.
Perang Puputan Bayu terjadi pada tahun 1771-1772 silam. Dimana kala itu, perang itu dianggap perang besar dan terkejam dengan menewaskan banyak korban jiwa. Orang Blambangan yang tak rela tanahnya diinjak-injak penjajah berusaha mempertahankan wilayahnya sekuat tenaga dengan hanya berbekal pedang dan tombak. (bdh/bdh)