Komnas HAM minta kepada aparat penegak hukum berseragam coklat- coklat ini tidak takut menangkap oknum-oknum tersebut, meski mereka adalah tokoh politik.
"Ada keterlibatan tokoh politik di Jakarta yang menjadi otak dari aksi rusuh ini. Kita minta polisi menangkap aktor intelektual yang merupakan tokoh politik," ujar Siane Indriani, Wakil Ketua Eksternal, Komnas HAM, kepada detikcom, Jumat (11/12/2015).
Komnas Ham meminta kepada kepolisian untuk tidak takut dengan tekanan dari siapapun, baik itu tokoh politik dan partai politik.
"Jangan takut dengan tekanan dari partai politik. Kami minta kasus ini diusut tuntas. Saya sudah bilang ke Kapolres Banyuwangi tadi, jangan takut ditekan dari atas," tambah Siane.
Saat ini, kata Siane, masyarakat di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Pesanggaran, takut ditangkap polisi. Mereka yang akan dijadikan saksi ataupun tersangka pelaku pengerusakan tambang emas tak mau pulang.
"Mereka hanya diperalat. Dan saat ini mereka takut pulang karena nanti jika pulang akan ditangkap polisi. Proses hukum harus proporsional. Jangan sampai mengorbankan pihaknya yang kecil. Sementara aktornya tak ditangkap," pungkasnya.
Sementara itu, Kapolres Banyuwangi AKBP Bastoni Purnama mengatakan, polisi saat ini fokus melakukan penyelidikan terhadap aktor intelektual yang memprovokasi massa melakukan aksi anarkis yang merusak infrastruktur tambang emas.
"Kita akan tetap obyektif. Kami tidak takut ada tekanan dari siapapun dalam kasus ini," ujarnya.
Menurut Kapolres Bastoni, tidak hanya tokoh politik saja yang bermain dalam aksi rusuh massa penolak tambang emas ini. Namun juga ada kepentingan bisnis dan ekonomi juga ikut andil membakar semangat massa melakukan tindakan anarkis.
"Banyak kepentingan, kami usut tuntas semuanya. Kami tidak takut," pungkasnya. (bdh/bdh)











































