Begini Kerasnya Perjuangan Guru Tunadaksa Dirikan Sekolah Gratis

Begini Kerasnya Perjuangan Guru Tunadaksa Dirikan Sekolah Gratis

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 03 Des 2015 11:44 WIB
Begini Kerasnya Perjuangan Guru Tunadaksa Dirikan Sekolah Gratis
Miftahul Khoir saat mengajar/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Mendirikan sebuah sekolah bukan lah perkara mudah. Terlebih lagi bagi perempuan tunadaksa seperti Miftahul Khoir. Kondisi ekonomi keluarganya yang sederhana, membuat banyak orang meragukan kemampuannya.

Kecelakaan lalu lintas 2005 lalu nyaris membuat perempuan 26 tahun ini patah semangat. Kaki kirinya harus diamputasi sekitar 10 centimeter di bawah lutut setelah terlindas roda truk kontainer. Mimpinya menjadi guru Matematika kandas sudah saat itu.

Namun, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Rukan (54) dan Sriyani(45) ini tak mau menyerah pada nasib. Dia tetap melanjutkan sekolahnya yang
saat itu kelas XII madrasah aliyah (MA) hingga tamat. Bahkan, dengan satu kaki, tahun 2011 Miftahul meraih gelar sarjana Pendidikan Matematika dari Universitas Wisnu Wardhana Malang.

Sayangnya, mimpi Miftahul menjadi seorang guru tak berjalan mulus. Keterbatasan fisik itu membuat tak satu pun sekolah di Mojokerto yang mau memperkerjakannya. Setelah menikah dengan suaminya, Djit Thendra (27), Miftahul bertekat membuat sekolah sendiri.

Dibantu sang suami, ibu satu anak ini pun mendirikan SMP Islam Miftahul Khoir di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Meski ditopang kaki palsu, dia mengabdikan hidupnya untuk mengajar anak-anak dari keluarga miskin di sekolahnya.

"Saat rencana mau mendirikan sekolahan dulu banyak warga sini yang mencemooh. Kemampuan saya sempat diragukan. Karena latar belakang keluarga bukan orang mampu, kondisi fisik saya seperti ini," kata Miftahul saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/12/2015).

Cemooh para tetangga itu justru menjadi cambuk penyemangat bagi Miftahul. Dibantu suaminya, tahun 2012 dia mulai mengurus izin yayasan lembaga
pendidikan SMP Islam Miftahul Khoir. Setahun kemudian, izin dari Kemendikbud, Pemprov Jatim, dan Pemkab Mojokerto pun dia kantongi. Niat baiknya mendirikan sekolah gratis pun disambut bantuan dari Kemendikbud berupa bangunan sekolah dua lantai dengan delapan ruangan.

Sejak diresmikan 22 Maret 2013, saat ini sekolah yang dirintis pasangan Miftahul dan Djit ini memiliki 58 siswa. Mayoritas dari mereka merupakan anak yatim dan dari keluarga miskin.

"Mulai pendaftaran sampai lulus kami gratiskan. Tas, buku pelajaran, seragam juga gratis. Biayanya kami dapatkan dari BOS (bantuan operasional sekolah)
dan para donatur," ujar Djit yang kini menjabat kepala sekolah SMP Islam Miftahul Khoir.

Selain mengandalkan BOS dan donatur, pasangan Djit dan Miftahul ini rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk menutup biaya operasional
sekolah. Djit sendiri menjadi sales freelance seragam sekolah. Sementara istrinya membuka bimbingan belajar di sore hari.

"Guru yang mengajar di sini 15 orang, itu hanya dapat uang bensin antara Rp 200-400 ribu per bulan. Kami tak mau ambil untung dari sekolah ini," cetus pria yang juga mengajar PKN dan Bahasa Indonesia di sekolahnya sendiri.

Meski memiliki gedung dengan fasilitas yang cukup memadai, Djit mengaku masih membutuhkan uluran tangan dari para donatur. Salah satunya untuk membangun toilet bagi siswa dan guru yang sampai hari ini belum tersedia.

"Para siswa dan guru kalau mau ke kamar mandi harus lari ke rumah mertua saya. Harapan kami kalau ada yang mau membantu, silakan dirupakan dalam material saja," ungkapnya. (iwd/iwd)
Berita Terkait