"Kami menyadari calon kami itu manusia biasa yang tentu tak lepas dari kesalahan dan khilaf, Bu Risma dan Mas Whisnu bukanlah orang yang sempurna atau malaikat," kata Ketua Bappilu PDIP Surabaya yang juga Sekretaris Tim Pemenangan Risma-Whisnu, Adi Sutarwijono kepada detikcom, Selasa (1/12/2015).
Adi menilai ada pihak-pihak yang tak senang dengan tingginya elektabilitas pasangan Risma dan Whisnu. Ada pihak-pihak yang sekarang mencari celah untuk menjatuhkan maupun menggembosi perolehan suara calon yang diusung PDIP, tambahnya.
Adi menambahkan, upaya lain yang tergolong black campaign adalah dengan membuat skenario kasus yang seolah-olah pelakunya adalah pasangan Risma-Whisnu.
"Isu-isu murah akan disusun untuk menggerogoti keterpilihan calon kami. Sekali lagi calon incumbent kami itu kan tak seratus persen sempurna," kata Adi yang juga Wakil Ketua Komis A DPRD SUrabaya.
Melalui siaran pers yang diterima detikcom, Risma mengungkapkan adanya pihak-pihak terus melakukan serangan black campaign. Karena itu, dia mengajak warga Surabaya untuk tidak terpancing.
"Saya ingatkan warga Surabaya agar tidak terkecoh dengan kampanye hitam. Sebab sekarang sudah ada indikasi munculnya politik uang," kata Risma.
Upaya kampanye negatif yang juga dia terima, lanjut Risma, soal informasi yang menyudutkan dirinya. Isu yang dihembuskan adalah Risma akan menutup sekolah-sekolah swasta di Surabaya jika menjabat wali kota.
"Masak saya dituduh mau menutup sekolah swasta. Adanya demo guru sekolah swasta di dewan kemarin itu, dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan saya," tegas calon wali kota nomor urut 2 ini.
Selain itu, dirinya mengaku mendapatkan informasi adanya indikasi politik uang. Modus yang tercium tim Risma diantaranya, pemilih perempuan diajak untuk tidak datang ke TPS saat coblosan 9 Desember 2015.
Berdasarkan informasi yang diperolej, sang pemberi uang itu mengatakan Risma pasti menang sehingga para pemilih perempuan tidak perlu datang ke TPS . "Jadi nggak perlu nyoblos, Risma sudah menang. Bagi yang bersedia, akan diberi uang. Ini kan nggak bagus," ungkapnya.
Sedangkan untuk para lelaki, dipersilakan tetap mendatangi TPS untuk memberi hak suaranya. Namun, bagi mereka yang bersedia memotret kertas suara yang sudah dicoblosnya, juga diiming-imingi imbalan sejumlah uang.
(ugik/ugik)











































