Jombang Ranking 2 Penderita HIV/AIDS Tertinggi di Jatim

Jombang Ranking 2 Penderita HIV/AIDS Tertinggi di Jatim

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 30 Nov 2015 18:05 WIB
Jombang Ranking 2 Penderita HIV/AIDS Tertinggi di Jatim
Ilustrasi/Foto: thinkstock
Jombang - Jumlah penderita HIV/Aids di Kabupaten Jombang menduduki peringkat ke 2 tertinggi di Jawa Timur. Kurun waktu 1999-Oktober 2015, tercatat 857 warga positif menderita HIV-AIDS.

Data yang dirilis Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, pertumbuhan kasus HIV/AIDS cukup mencengangkan. Pada periode 1999-2012 saja, penderita HIV/AIDS di Kota Santri yang terdeteksi sebesar 424 orang.

Kasus itu meningkat drastis selama tahun 2013 dengan ditemukan 157 kasus baru. Disusul tahun 2014 dengan 139 kasus. Dengan demikian hingga Oktober 2015, jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Santri mencapai 857 orang.

"Kami menduduki peringkat ke dua se Jatim dengan penderita terbanyak," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, dr Heri Wibowo kepada wartawan, Senin (30/11/2015).

Tingginya pertumbuhan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Jombang menjadi rapor merah menjelang peringatan Hari AIDS se dunia yang jatuh pada Selasa (1/12/2015). Kota Santri ini berada setingkat di bawah Kota Surabaya dengan jumlah penderita HIV/AIDS terbanyak di Jatim.

Heri menjelaskan, penularan HIV di wilayahnya melalui berbagai cara. Menurut dia, penularan tertinggi melalui prostitusi terselubung. Meski tak ada lokalisasi di Kabupaten Jombang, namun warung remang-remang yang menyediakan jasa esek-esek menjamur.

Sedikitnya 34% dari 857 penderita HIV/AIDS atau sekitar 291 orang merupakan pria hidung belang. Disusul kemudian 24% atau sekitar 205 ibu rumah tangga tertular virus HIV melalui suaminya yang suka 'jajan'.

Sedangkan wanita pekerja seks komersial menduduki peringkat ke 3 sebesar 11% atau 94 orang. Kaum gay sebesar 8% atau sekitar 68 orang.

"Tren terbanyak tertular adalah high risk man (pria dengan resiko tinggi) sebagai pelanggan (jasa esek-esek). Untuk itu kami cegah penularan ke anak dengan deteksi dini terhadap ibu hamil," ujarnya.

Sulitnya mencegah penularan HIV, lanjut Heri, berkaitan erat dengan sulitnya mendeteksi dini penderita HIV. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dirinya melalui voluntary conseling and testing (VCT) masih rendah.

Fenomena itu memaksa pihaknya dan Komisi Pemeberantasan AIDS (KPA) Jombang gencar melakukan VCT mobile ke komunitas rentan penularan. Seperti komunitas waria, komunitas gay, serta sejumlah warung remang-remang.

"Pemantauan kami untuk yang penderita HIV rutin mengambil ARV (anti retroviral virus) mencegah ke stadium Aids," tandasnya. (ugik/ugik)
Berita Terkait