Dalam ruwatan itu, para warga membuat sesaji untuk diarak, berupa aneka hasil bumi, jajanan pasar dan kepala sapi. Sesaji itu diarak dari balai desa menuju rumah Kepala Desa Ngadisari dengan diiringi puluhan anak-anak serta ratusan warga berpakaian khas suku Tengger.
Dari keyakinan warga suku Tengger, sesaji itu didoakan oleh dukun Tengger. Menurut warga Tengger, selametan yang dilengkapi dengan sesaji tersebut, sebagai tolak balak untuk Gunung Bromo, yang saat ini berstatus waspada.
Menurut Supoyo, tokoh adat suku Tengger, manusia mempunyai tiga hubungan, yakni manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan tuhan sang pencipta.
"Selamatan Desa ini dilakukan, agar alam dan manusia semuanya di beri keselamatan. Termasuk aktivitas Gunung Bromo yang sekarang ini aktivitasnya berada di level waspada," kata Supoyo, kepada wartawan saat ditemui di tengah kegiatan, Senin (16/11/2015).
Supoyo mengimbau warganya, agar tidak panik dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa seperti bertani, meski saat ini aktivitas Bromo naik.
Sementara aktivitas Gunung Bromo berdasarkan data dari Seismograph pos pantau Gunung di Dusun Cemoro Lawang, gempa tremor menerus dengan amplitudo maksimal kisaran 0.5 - 6 mili meter. Secara visual asap berwarna putih cenderung kelabu mengarah ke barat dengan ketinggian 50 - 100 meter dari bibir kawah.
(bdh/fat)










































